Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI), Wayan Ardi Adnyana, menilai bahwa penyesuaian harga BBM non subsidi merupakan dampak yang tidak dapat dilepaskan dari dinamika geopolitik global yang tengah berlangsung. Ketegangan di kawasan Timur Tengah dan gangguan terhadap jalur distribusi energi dunia telah memberikan tekanan terhadap harga minyak mentah internasional yang kemudian berpengaruh pada berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurut Ardi, masyarakat perlu memahami bahwa kenaikan harga BBM non subsidi seperti Pertamax tidak semata-mata disebabkan oleh faktor domestik, melainkan merupakan konsekuensi dari kondisi pasar energi global yang sedang bergejolak. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa perlu menyikapi situasi ini secara bijaksana dan proporsional.
“Dalam situasi geopolitik global yang tidak menentu, pemerintah dan Pertamina menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas energi nasional. Masyarakat perlu melihat persoalan ini secara utuh dan tidak terjebak pada narasi yang menyederhanakan persoalan,” ujar Ardi, Jumat, 12 Juni 2026.
Meski demikian, KMHDI meminta PT Pertamina (Persero) dan pemerintah untuk memastikan ketersediaan BBM subsidi, khususnya Pertalite dan Biosolar, tetap aman dan mudah diakses oleh masyarakat. Menurutnya, kedua jenis BBM tersebut merupakan kebutuhan utama masyarakat kelas menengah ke bawah, petani, nelayan, pelaku UMKM, dan sektor produktif lainnya.
“Kami meminta Pertamina untuk menjaga ketersediaan stok Pertalite dan Biosolar di seluruh wilayah Indonesia. Jangan sampai penyesuaian harga BBM non subsidi diikuti dengan kelangkaan BBM yang menjadi kebutuhan masyarakat luas. Stabilitas pasokan energi harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Ardi juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang dapat memicu kepanikan atau memperkeruh situasi. Menurutnya, kondisi global saat ini rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membangun sentimen negatif yang dapat mengganggu stabilitas nasional.
“Kita tidak boleh mudah terprovokasi oleh narasi yang berupaya memecah belah masyarakat atau menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara. Kritik dan pengawasan publik tentu penting, tetapi harus dilakukan secara konstruktif, berdasarkan data dan fakta, serta tetap mengedepankan kepentingan nasional,” tegas Ardi.
KMHDI menilai bahwa momentum ini harus menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia untuk semakin memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi, penguatan produksi energi dalam negeri, serta pengembangan energi terbarukan agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga energi global di masa mendatang.
“Semangat gotong royong antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Dengan persatuan dan kesadaran bersama, Indonesia akan mampu melewati situasi ini dengan baik,” tandas Ardi.
Ketua Umum PP KMHDI Wayan Ardi Adnyana.