Nurdin Tampubolon Optimis Reformasi Ekspor Tingkatkan Devisa dan Pendapatan Negara

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Jun 2026, 21:03
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Presiden Komisaris NT Corp Nurdin Tampubolon. Presiden Komisaris NT Corp Nurdin Tampubolon. (Ntvnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Komisaris NT Corp Nurdin Tampubolon meyakini reformasi tata kelola ekspor sumber daya alam melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global, termasuk membuka peluang menjadi penentu harga atau price maker untuk sejumlah komoditas strategis.

Dalam wawancara di program NTV Prime Nusantara TV, Senin, 15 Juni 2026, Nurdin mengatakan, salah satu manfaat terbesar dari reformasi ekspor adalah meningkatnya penerimaan devisa negara yang selama ini belum optimal akibat berbagai kebocoran dan aktivitas ekonomi yang tidak tercatat.

Menurutnya, apabila sistem berjalan sesuai rencana, devisa Indonesia dapat mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

"Karena sekarang, keuntungan pemerintah akan berlipat ganda, bahwa nanti devisa kita sudah meningkat dari US$140 sampai dengan US$190 miliar dalam 2 tahun ke depan, dan kita percaya itu apabila ini bisa berjalan dengan baik, dan bahkan lebih,” katanya.

Ia menjelaskan, bahwa selama ini Indonesia masih menghadapi tantangan berupa shadow economy yang menyebabkan sebagian nilai ekonomi nasional tidak sepenuhnya tercatat dan memberikan manfaat bagi negara. Dengan pembenahan tata kelola ekspor, pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan potensi ekonomi yang selama ini belum termanfaatkan secara maksimal.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by News Nusantara tv (@news.nusantaratv)

Nurdin juga menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat pengaruhnya terhadap pasar global, khususnya pada komoditas unggulan seperti minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara.

"Jadi shadow economy yang terjadi saat ini, jadi kita bisa menjadi price maker di tiga produk itu. Yang di CPO dan juga batu bara,” jelasnya.

Menurutnya, status sebagai price maker akan memberikan ruang yang lebih besar bagi Indonesia dalam menentukan strategi perdagangan internasional dibanding hanya mengikuti harga yang ditetapkan pasar global.

"Kalau kita price maker, kita bisa mengatur ekspor kita, bagaimana menaikkan lebih tinggi dari harga pasar, bagaimana meningkatkan percepatan, yang duluan masuk ke pasar, dan bagaimana produsen ini bisa berproduksi dengan baik,” ungkap Nurdin.

Ia menilai, reformasi ekspor yang terintegrasi tidak hanya berdampak pada peningkatan devisa, tetapi juga berpotensi memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar dunia sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi sektor produksi dalam negeri.

Ia optimistis jika reformasi berjalan efektif, maka daya saing nasional akan meningkat, pendapatan negara bertambah, dan cadangan devisa Indonesia menjadi lebih kuat.

“Sehingga nanti sustainable competitive advantage bangsa kita akan bagus, pendapatan negara akan meningkat, devisanya akan tambah besar,” tutupnya.

x|close