Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menilai pendekatan literasi digital yang selama ini berfokus pada kemampuan dasar penggunaan perangkat teknologi dan internet sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan perkembangan kecerdasan artifisial (AI).
Menurut Nezar, peningkatan kemampuan digital masyarakat kini perlu diarahkan pada penguasaan keterampilan yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi, sekaligus mampu memberikan nilai produktif dalam kehidupan sehari-hari.
“Program literasi digital sekarang lebih ke upskilling, meningkatkan kecakapan yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan sekarang,” jelasnya dalam Audiensi dengan Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Kamis, 25 Juni 2026.
Ia menjelaskan perubahan orientasi program literasi digital tersebut sejalan dengan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Setelah hampir sepuluh tahun menjalankan berbagai program literasi digital, pemerintah menilai pendekatan lama perlu diperbarui agar lebih sesuai dengan kebutuhan saat ini.
“Kita melakukan program-program literasi digital sudah cukup lama, hampir satu dekade dan evaluasi yang dilakukan oleh Bappenas terhadap program ini juga sudah final. Kita tidak melanjutkan lagi literasi digital seperti yang dulu,” ungkap Wamen Nezar.
Nezar menilai fase edukasi mengenai penggunaan gawai dan akses ke ruang digital pada dasarnya telah dilewati oleh sebagian besar masyarakat. Karena itu, fokus program saat ini tidak lagi bertumpu pada pengenalan teknologi dasar.
“Kalau sekarang kayaknya sudah lewat masa itu. Walaupun masih dibutuhkan, tetapi sudah dikerjakan ataupun diadopsi oleh platform-platform lewat community guidelines dan lain-lain,” imbuhnya.
Selain itu, menurut dia, berbagai aspek mendasar terkait keamanan digital maupun etika bermedia digital kini juga telah banyak diakomodasi oleh platform digital melalui kebijakan dan pedoman komunitas yang mereka terapkan.
Dalam kesempatan tersebut, Nezar mengungkapkan bahwa strategi baru literasi digital yang dijalankan Kementerian Komunikasi dan Digital lebih diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan informasi di ruang digital, termasuk maraknya disinformasi, misinformasi, dan penyebaran hoaks.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat perkembangan teknologi kecerdasan artifisial memungkinkan penyebaran informasi berlangsung semakin cepat dan kompleks. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan mengakses teknologi, tetapi juga mampu memahami, memverifikasi, serta memanfaatkan informasi secara bijak dan produktif di era digital.
Wamen Nezar Patria Sebut Literasi Digital Perlu Beradaptasi dengan Perkembangan AI (Komdigi)