Aren Dinilai Berpotensi Besar Jadi Sumber Bioetanol Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Jun 2026, 17:15
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Tim dari BRIN dan UBH Padang melakukan riset pengembangan situs arkeologi di pesisir Sumatra Barat (Sumbar). Tim dari BRIN dan UBH Padang melakukan riset pengembangan situs arkeologi di pesisir Sumatra Barat (Sumbar). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Tanaman aren dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber bioetanol nasional. Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN Saptadi Darmawan menjelaskan, kandungan sukrosa, glukosa, dan fruktosa yang tinggi pada nira aren membuat proses produksinya lebih sederhana dibandingkan bioetanol berbahan pati maupun biomassa kayu.

Menurut Saptadi, bioetanol yang dihasilkan dari nira aren hanya memerlukan proses fermentasi dan penyulingan. Selain itu, bahan bakar tersebut memiliki angka oktan sekitar 108, lebih tinggi dibandingkan bensin beroktan tinggi. Pohon aren juga mampu menghasilkan nira hingga sekitar 20 tahun sehingga menjadi sumber energi terbarukan yang berkelanjutan.

"Nilai ekonominya cukup bagus. Sifatnya juga terbarukan," kata Saptadi.

Ia menambahkan, tanaman aren dapat dibudidayakan di lahan marginal atau lahan yang kurang produktif sehingga tidak bersaing dengan lahan pangan. Di sisi lain, keberadaan aren juga mendukung konservasi lingkungan karena sistem perakarannya mampu menjaga tanah dan air, mengurangi erosi, serta menghasilkan nektar sebagai sumber pakan lebah.

Meski prospeknya besar, pengembangan bioetanol berbasis aren masih menghadapi sejumlah kendala. Saptadi mengatakan kualitas bahan baku dan proses produksinya masih perlu distandarkan. Selain itu, di sejumlah daerah nira aren masih banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku minuman beralkohol tradisional yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Baca Juga: Pemerintah Tekankan Kebijakan Bioetanol Sebagai Upaya Akselerasi Kedaulatan Energi Nasional

Karena itu, ia menilai perlu ada pemisahan antara pengembangan aren untuk kebutuhan pangan dan energi agar tidak terjadi persaingan pemanfaatan bahan baku.

"Untuk pengembangannya kita harus membuat dua klaster, yaitu aren untuk pangan dan aren untuk energi. Kalau tidak dipisahkan, pengembangannya tidak akan berjalan dengan lancar," katanya.

Dari sisi ekonomi, usaha bioetanol aren dinilai layak dikembangkan pada tingkat koperasi maupun industri kecil. Berdasarkan hasil penelitian BRIN, harga pokok produksi bioetanol aren diperkirakan berkisar Rp8.500-Rp10.000 per liter, sementara harga jualnya mencapai sekitar Rp14.000-Rp16.000 per liter dengan margin kotor sekitar 35-45 persen.

Saptadi juga menekankan pentingnya pemanfaatan seluruh bagian tanaman aren agar nilai tambah yang dihasilkan semakin besar. Selain nira sebagai bahan baku bioetanol, buah aren dapat diolah menjadi kolang-kaling, ijuk dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri, sedangkan limbahnya bisa diproses menjadi biopelet maupun biobriket.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Bahlil Percepat Mandatori Bioetanol BBM

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tanaman aren tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Jawa Barat menjadi provinsi dengan luas areal terbesar, disusul Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan yang juga memiliki potensi pengembangan cukup besar.

Namun, Saptadi mengingatkan adanya tren penurunan luas areal dan produksi aren. Berdasarkan data BPS, luas areal tanaman aren menyusut dari 64.544 hektare pada 2019 menjadi 60.557 hektare pada 2023. Produksi juga turun dari 107.415 ton pada 2021 menjadi 100.273 ton pada 2023, sedangkan produktivitas menurun dari 2,8 ton per hektare menjadi 2,7 ton per hektare.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian apabila aren ingin dijadikan sebagai salah satu sumber utama bioetanol nasional.

Sebagai upaya mendukung pengembangan bioenergi, Kementerian Kehutanan telah meresmikan Pilot Bioethanol Aren di lingkungan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang, Garut, Jawa Barat, pada Desember 2025.

Saat peresmian, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan proyek tersebut menjadi langkah penting dalam percepatan pengembangan bioenergi hijau berbasis aren yang sejalan dengan agenda transisi energi pemerintah. Ia juga menyebut aren berpotensi menopang kebutuhan bioetanol nasional karena mampu tumbuh dengan baik di kawasan hutan maupun lahan berlereng.

Baca Juga: Bahlil akan Wajibkan Penerapan Bioetanol dalam BBM Paling Lambat Tahun 2028

Fasilitas percontohan tersebut memanfaatkan pasokan nira dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Baru Bojong di Desa Bojong, Garut. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 300 liter bioetanol per hari dengan kebutuhan bahan baku 300-500 kilogram nira aren setiap hari.

Kementerian Kehutanan memperkirakan satu hektare tanaman aren mampu menghasilkan sekitar 24.000 liter bioetanol setiap tahun.

(Sumber: Antara)

x|close