Bakom Beberkan Empat Tekanan Utama yang Membayangi Perekonomian Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jul 2026, 11:24
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Fithra Faisal Hastiadi memberikan pandangan pemerintah terkait perekonomian nasional terkini dalam acara Bisnis Indonesia Forum yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026 Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Fithra Faisal Hastiadi memberikan pandangan pemerintah terkait perekonomian nasional terkini dalam acara Bisnis Indonesia Forum yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026 (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Fithra Faisal Hastiadi, mengungkapkan terdapat empat tekanan utama terhadap perekonomian nasional atau quadruple whammy yang dinilai memengaruhi perkembangan dunia usaha di Indonesia.

Dalam Bisnis Indonesia Forum yang berlangsung di Jakarta, Rabu, Fithra menjelaskan bahwa tantangan ekonomi saat ini tercermin dari empat indikator utama, yakni defisit neraca perdagangan sebesar 1,6 miliar dolar AS, kontraksi Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur ke level 46,9, kenaikan inflasi dari 3,08 persen menjadi 3,34 persen, serta turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence Index/CCI) dari 120,9 menjadi 117,8.

Menurut dia, kondisi tersebut semakin membebani fundamental perekonomian Indonesia, terutama dalam jangka pendek.

Fithra menjelaskan kontraksi sektor manufaktur dipicu oleh keengganan pelaku usaha untuk melakukan ekspansi karena tingginya biaya produksi, khususnya yang berasal dari sektor energi.

Baca Juga: Bakom RI: Narasi Ekonomi yang Kredibel Jadi Kunci Menjaga Kepercayaan Investor

"Untuk yang bekerja di industri menjadi pengusaha, menjadi produsen, pasti melihat tren ini sudah sangat khawatir, karena apa? Karena kalau ingin menaikan harga, kecenderungannya di Indonesia ini price elastic, kalau harganya naik demand-nya turun," ujarnya.

Ia menuturkan, situasi tersebut membuat banyak pelaku usaha berada dalam posisi sulit sehingga memilih menerapkan strategi shrinkflation, yakni mengurangi ukuran atau isi produk agar kenaikan biaya produksi dapat ditekan tanpa harus menaikkan harga jual secara signifikan.

Di sisi lain, Fithra melihat masih terdapat sinyal positif. Hal itu terlihat dari meningkatnya impor barang modal yang naik dari 5,64 persen pada April menjadi 12,7 persen pada Mei. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya aktivitas pemenuhan kebutuhan pasokan oleh kalangan produsen.

Mengenai defisit neraca perdagangan yang mencapai 1,6 miliar dolar AS setelah Indonesia mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut, Fithra mengatakan kondisi tersebut terutama dipicu oleh besarnya defisit pada sektor minyak dan gas (migas).

Baca Juga: Bakom Ungkap Visi Prabowo: Anak Indonesia Harus Cerdas dan Sehat di 2045

Ia memaparkan, nilai ekspor migas Indonesia hanya mencapai 758 juta dolar AS, sedangkan impor migas melonjak hingga 4,5 miliar dolar AS. Akibatnya, defisit neraca migas melebar menjadi 3,8 miliar dolar AS.

Sementara itu, kinerja ekspor nonmigas belum mampu menutupi besarnya defisit tersebut. Meskipun masih mencatatkan hasil positif, nilai surplus nonmigas hanya mencapai 2,2 miliar dolar AS.

Fithra juga menyebut pelemahan ekspor nonmigas dipengaruhi oleh turunnya pengiriman sejumlah komoditas utama. Ekspor lemak nabati atau CPO tercatat merosot sebesar minus 14,23 persen, sedangkan besi dan baja turun hingga minus 14,68 persen pada Mei.

Baca Juga: BPS: Sensus Ekonomi 2026 Jadi Dasar Memotret Kondisi Riil Perekonomian Indonesia

Ia menduga penurunan ekspor nonmigas ke pasar internasional berkaitan dengan kebijakan perdagangan luar negeri Amerika Serikat yang mulai menerapkan aturan tarif baru.

"Hipotesis saya ini karena front loading. Kalau kita lihat berdasarkan trade partners di bulan April ekspor kita ke Amerika Serikat naik 38,72 persen, tetapi di bulan Meinya anjlok minus 24,21 persen," ucap Fithra.

(Sumber: Antara)

x|close