Bahlil Usul Subsidi Listrik Naik jadi Rp117,84 T di 2027

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Sep 2026, 07:45
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika dijumpai setelah Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika dijumpai setelah Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usul subsidi listrik naik. Ia usul subsidi listrik naik pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 sebesar Rp117,84 triliun, naik dibandingkan APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp100,83 triliun.

“Kami juga melaporkan kepada pimpinan dan seluruh anggota Komisi XII bahwa usulan subsidi listrik pada RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun,” kata Bahlil saat rapat dengan Komisi XII DPR RI, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 1 September 2026.

Bahlil menjelaskan, usulan itu didasari oleh asumsi makro harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) senilai 75 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, naik dari 2026 yang berada di angka 70 dolar AS per barel.

Lalu, usulan subsidi listrik juga didasari oleh asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per 1 dolar AS, naik dari yang semula Rp16.500 per 1 dolar AS; serta inflasi sebesar 2,5 persen.

“Jadi, kalau harganya naik, asumsi naiknya menjadi 80 dolar AS per barel ICP, maka ada kemungkinan penambahan subsidi. Termasuk nilai tukar. Ya, berdoa saja mudah-mudahan nilai tukar tidak terlalu banyak terkoreksi,” kata dia.

Berdasarkan paparan Bahlil, realisasi subsidi listrik terbayar sampai dengan Juni 2026 sebesar Rp46,36 triliun. Sementara, tagihan Juli senilai Rp8,12 triliun dan koreksi triwulan I-2026 sebesar Rp1,21 triliun dalam proses verifikasi Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.

Di samping kenaikan subsidi listrik, Bahlil turut mengusulkan kenaikan volume solar bersubsidi dari 18,64 juta kiloliter (kl) pada APBN 2026 menjadi 19 juta kl pada RAPBN 2027, serta kenaikan volume minyak tanah bersubsidi dari 0,53 juta kl pada 2026 menjadi 0,561 juta kl pada 2027.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa di Indonesia ini tidak semuanya memakai LPG. Masih di wilayah timur itu masih pakai minyak tanah. Di Maluku, di Papua, di beberapa wilayah Sulawesi, itu masih pakai minyak tanah. Jadi kalau volume minyak tanah ini kita naikkan, memang ada argumentasi-argumentasi keadilannya,” papar Bahlil.

Sementara, tak ada usulan penambahan kuota volume untuk LPG 3 kg, yakni sebesar 8 juta metrik ton, dan subsidi minyak solar tetap di angka Rp1.000 per liter.

“Berdasarkan realisasi sampai dengan Juli 2026, diusulkan volume LPG 3 kg dalam RAPBN tahun 2027 sebesar 8 juta metrik ton,” tandas Bahlil.

HIGHLIGHT

x|close