Hilirisasi Dorong Pertumbuhan Industri Agro Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Okt 2026, 22:50
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
kopi/Ist kopi/Ist

Ntvnews.id, Jakarta -  Hilirisasi industri agro dinilai berperan penting dalam memperkuat perekonomian Indonesia. Melalui pengolahan komoditas menjadi produk bernilai tambah, sektor ini berpotensi meningkatkan daya saing ekspor sekaligus memperluas kesempatan kerja di dalam negeri. Produk olahan pertanian dan perkebunan pun menjadi salah satu penopang ekspor nonmigas nasional.

Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$25,30 miliar pada April 2026. Angka tersebut meningkat 12,32% dibandingkan Maret 2026 dan tumbuh 21,98% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan ekspor tersebut didukung oleh kinerja ekspor nonmigas yang naik 13,66%. Sejumlah komoditas mencatatkan pertumbuhan signifikan, di antaranya kopi, teh, dan rempah-rempah sebesar 54,44%, serta tembakau dan rokok yang meningkat 43,49%.

Secara keseluruhan, ekspor nonmigas Indonesia selama Januari hingga April 2026 mencapai US$87,74 miliar atau tumbuh 6,28%.

Di tengah perkembangan tersebut, ekspor sektor pertanian justru mengalami penurunan kumulatif sebesar 26,27%. Kondisi ini mendorong pentingnya penguatan industri pengolahan berbasis komoditas agro agar produk dalam negeri memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar internasional.

Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Yulia Astuti, mengatakan hilirisasi industri agro dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2028. Menurutnya, posisi Indonesia sebagai negara agraris perlu diikuti dengan pengembangan pengolahan komoditas agar potensi sektor pertanian dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap ekspor.

"Peluang investasi hilirisasi untuk pertumbuhan ekonomi itu tentunya akan mendorong terjadinya transformasi ekonomi kita," ujarnya baru-baru ini.

Yulia juga menyoroti pentingnya investasi dan kemudahan bagi pelaku usaha untuk menanamkan modal dalam pengembangan industri hilir agro. Dukungan tersebut diperlukan agar proses hilirisasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

"Pemerintah sudah banyak berusaha untuk memberikan fasilitas tersebut, namun kami pun tetap membuka apabila ada ruang-ruang perbaikan atau ada hal-hal yang perlu kita tambahkan," jelasnya.

Selain meningkatkan nilai ekonomi produk, hilirisasi juga dinilai dapat memperluas penyerapan tenaga kerja. Yulia menjelaskan, aktivitas ekonomi yang bermula dari sektor hulu berpotensi berkembang ke industri pengolahan di sektor hilir sehingga menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

Sementara itu, CEO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Anton Sulaiman, menilai industri agro perlu menjadi salah satu fokus pengembangan ekspor produk hilirisasi. Namun, penguatan industri pengolahan harus dibarengi dengan pembenahan sektor hulu, terutama untuk memastikan ketersediaan bahan baku dan bahan penolong yang dibutuhkan industri.

Menurut Anton, kendala pasokan bahan baku masih menjadi persoalan yang dapat menghambat pengembangan industri hilir. Karena itu, penyelesaian masalah di sektor hulu menjadi salah satu prasyarat agar hilirisasi dapat berjalan optimal.

“Sehingga ini harus jadi perhatian, karena kalau hulunya ini tidak bisa diselesaikan, maka keberhasilan pengembangannya akan sulit,” ujar Anton.

Anton menambahkan, pengembangan hilirisasi industri agro tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sejalan dengan pilar utama dan program prioritas nasional Presiden Prabowo. Upaya tersebut perlu didukung ketersediaan bahan baku serta pemenuhan kebutuhan industri dari dalam negeri.

“Jadi satu hal yang juga penting kita pikirkan terus, tentu dilakukan dari segi bagaimana supaya agar tetap menjaga industri yang utuh. Kontribusinya nanti kita akan bisa lihat bagaimana itu sudah tercapai,” ujarnya menyinggung penerapan kehati-hatian di sektor pertanian.

Industri Kopi Hadapi Tantangan Bahan Baku

Dari sektor kopi, Ketua Departemen Specialty dan Industri Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo, mengungkapkan pelaku usaha masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan formulasi atau pencampuran bahan untuk produk olahan yang ditujukan ke pasar ekspor.

Ia menjelaskan, industri membutuhkan jenis bahan baku tertentu untuk menghasilkan formulasi produk sesuai kebutuhan pasar. Sebagian kebutuhan tersebut belum dapat dipenuhi sepenuhnya dari pasokan domestik.

"Campuran ini kan juga dibutuhkan kadang-kadang ada kopi yang dari impor dari luar negeri. Nah, ini yang kita sebagai industri itu ngalamin kesulitan," kata Moelyono.

Selain persoalan bahan pencampur untuk menghasilkan produk ekspor bernilai tambah, Moelyono menilai peningkatan produktivitas perkebunan kopi lokal juga perlu mendapat perhatian.

Ia mencontohkan produksi kopi robusta yang rata-rata berada di kisaran 1 ton hingga 1,2 ton per hektare berpotensi ditingkatkan menjadi 2 ton per hektare. Peningkatan produktivitas tersebut dinilai dapat memperbesar nilai ekonomi dan devisa yang dihasilkan dari komoditas kopi.

"Jadi sekarang kita konsentrasi bagaimana meningkatkan produktivitas dari kebun-kebun yang sudah ada. Itu saja, simpel. Pasti nilainya akan meningkat sangat besar," pungkasnya.

Tembakau Jember Tembus Pasar Ekspor

Potensi hilirisasi industri agro juga terlihat dari pengolahan komoditas lokal menjadi produk yang mampu bersaing di pasar internasional. Salah satu contohnya adalah industri cerutu berbasis tembakau di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Bupati Jember Muhammad Fawait menyebut sekitar 90% produksi cerutu pabrikan di wilayahnya ditujukan untuk pasar ekspor. Menurutnya, pengembangan industri hilir tembakau telah mendorong komoditas lokal tersebut menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

“Jember kini mengukuhkan diri sebagai daerah pengisi pasar ekspor cerutu terbesar di Indonesia. Produk kita sudah menembus hampir 45 negara, termasuk pengiriman terbaru ke Amerika Serikat, Timur Tengah, Eropa seperti Yunani dan Jerman hingga Tiongkok serta kawasan ASEAN,” jelas pria yang akrab disapa Gus Fawait tersebut.

Besarnya potensi komoditas agro mendorong perlunya dukungan kebijakan yang lebih konkret untuk mempercepat pengembangan industri pengolahan. Komoditas seperti kelapa, cokelat, dan tembakau dinilai memiliki peluang untuk menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus memperluas pemanfaatan bahan baku lokal.

Dukungan pemerintah melalui penyempurnaan regulasi dan kemudahan berusaha diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri manufaktur, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta meningkatkan penerimaan negara dan devisa dari ekspor. Dengan demikian, manfaat hilirisasi diharapkan tidak hanya dirasakan oleh industri, tetapi juga oleh petani dan pelaku usaha di sepanjang rantai pasok.

x|close