Menko Airlangga Sebut Tekanan Global dan Konflik Timur Tengah Picu Pelemahan Rupiah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 14:40
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan sambutan dalam seminar nasional terkait aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Jakarta, Selasa (21/4/2026). ANTARA/Aria Ananda/aa. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan sambutan dalam seminar nasional terkait aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Jakarta, Selasa (21/4/2026). ANTARA/Aria Ananda/aa. (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta -  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh dinamika global.

“Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja,” kata Airlangga saat ditemui di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.

Pada perdagangan Kamis pagi, nilai tukar rupiah tercatat melemah sebesar 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.181 per dolar AS.

Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan pemantauan guna merumuskan langkah antisipasi, mengingat asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN Tahun Anggaran 2026 berada di level Rp16.500 per dolar AS.

Baca Juga: Menkeu Beberkan Strategi Pemerintah Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah: Kita Masih Aman

“Kita monitor saja, karena ini kan gak bisa kita setiap hari reaktif. Kita monitor saja, dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga,” ujarnya.

Sementara itu, analis dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang berdampak pada kenaikan harga energi global.

“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ucapnya.

Dari sisi domestik, keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dinilai mencerminkan fokus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Baca Juga: IHSG Awal Pekan Melemah, Nilai Tukar Rupiah Nyaris Tembus Rp17 Ribu

Untuk mengurangi volatilitas pasar, BI juga menaikkan batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat meredam tekanan di pasar valuta asing, khususnya di pasar spot, sekaligus memperkuat stabilisasi rupiah.

“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujarnya.

(Sumber: Antara)


x|close