Macron: Eropa Enggan Ikut Operasi Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mei 2026, 09:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden Prancis Emmanuel Macron. ANTARA/Xinhua/Gao Jing/am. Presiden Prancis Emmanuel Macron. ANTARA/Xinhua/Gao Jing/am. (Antara)

Ntvnews.id, Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa negara-negara Eropa tengah membangun solusi keamanannya sendiri di tengah meningkatnya ketegangan global.

Macron juga menyatakan Prancis tidak akan terlibat dalam operasi pembukaan kembali Selat Hormuz apabila dilakukan di bawah “kerangka yang tidak jelas”.

Pernyataan tersebut disampaikan Macron dalam Pertemuan ke-8 Komunitas Politik Eropa yang berlangsung di Yerevan, Armenia.

“Orang-orang Eropa sedang membangun solusi keamanan kita sendiri. Orang-orang Eropa sedang mengambil takdir mereka di tangan mereka sendiri, meningkatkan belanja pertahanan dan keamanan serta membangun solusi bersama,” kata Macron, seperti dikutip Anadolu, Selasa, 5 Mei 2026.

Baca Juga: Eks Dirut Gas Pertamina Hari Karyuliarto Sebut Vonis Kasus LNG Tidak Adil dan “Setting-an”

Ia menjelaskan bahwa kebijakan keamanan Eropa sejak 2022 dibentuk melalui berbagai inisiatif, termasuk Komunitas Politik Eropa, dukungan terhadap Ukraina melalui negara-negara Coalition of the Willing, serta langkah-langkah ad hoc terkait Selat Hormuz.

Macron menegaskan bahwa Prancis mendukung pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut, namun menolak ikut serta dalam operasi militer yang tidak memiliki dasar dan kerangka jelas.

“Jika Amerika Serikat siap membuka kembali Hormuz, itu sangat baik. Itulah yang kami minta sejak awal,” ujarnya.

Macron juga mengatakan Prancis lebih mendukung pembukaan Selat Hormuz melalui koordinasi antara Iran dan Amerika Serikat sebagai solusi jangka panjang demi menjamin kebebasan navigasi “tanpa pembatasan dan tanpa pungutan.”

Selain itu, Macron menyoroti pentingnya penghormatan terhadap gencatan senjata di Lebanon. Ia menyebut korban baru masih terus berjatuhan sehingga seluruh pihak harus memegang komitmen masing-masing.

Arsip foto - Bendera Uni Eropa terlihat di depan kantor pusat Komisi Eropa di Brussel, Belgia (23/5/2025). ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe/aa. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Bendera Uni Eropa terlihat di depan kantor pusat Komisi Eropa di Brussel, Belgia (23/5/2025). ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe/aa. (Antara)

Ketegangan kawasan meningkat sejak 28 Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyerang target-target Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.

Sejak 13 April, Washington memberlakukan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur strategis tersebut.

Baca Juga: Eks Dirut Gas Pertamina Hari Karyuliarto Bakal Gugat BPK ke PTUN Usai Divonis 4,5 Tahun

Gencatan senjata selama dua pekan diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, lalu dilanjutkan pembicaraan di Islamabad pada 11 April. Namun, negosiasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang.

Presiden Donald Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata atas permintaan Pakistan tanpa menetapkan tenggat waktu baru.

x|close