Trump Sebut Gencatan Senjata AS-Iran Masih Bertahan Meski dalam Kondisi “Sangat Lemah”

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Mei 2026, 09:20
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada konferensi pers di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat, Senin (6/4/2026). ANTARA/Xinhua/Li Yuanqing/aa. Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada konferensi pers di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat, Senin (6/4/2026). ANTARA/Xinhua/Li Yuanqing/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa pekan masih bertahan, meski berada dalam kondisi yang sangat rapuh.

"Saya akan bilang gencatan senjata dalam kondisi sangat kritis (massive life support)," kata Trump kepada para jurnalis di Gedung Putih, Senin, 11 Mei 2026 waktu setempat.

Trump juga menggambarkan situasi gencatan senjata tersebut sebagai “sangat lemah”.

Dalam pernyataannya, Trump kembali mengkritik respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan Gedung Putih. Proposal tersebut sebelumnya telah ditolak Washington sehari sebelumnya dan disebut Trump sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima”.

Ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai antara Washington dan Iran harus mencakup komitmen Teheran untuk menghentikan program nuklirnya.

Trump juga menuduh Iran mengingkari kesepakatan terkait penyerahan uranium yang telah diperkaya kepada Amerika Serikat.

Baca Juga: Trump Bakal Jadikan Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51 AS

"Mereka menyetujuinya dua hari yang lalu. Namun, mereka berubah pikiran karena mereka tidak menuliskannya di dalam dokumen," kata Trump.

Menurut Trump, Iran sebelumnya menyatakan dirinya bisa mengambil uranium tersebut secara langsung. Pernyataan itu merujuk pada uranium Iran yang disebut terkubur di bawah reruntuhan pascaserangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.

"Situs itu begitu hancur sehingga hanya ada satu atau dua negara di dunia yang bisa mendapatkannya," kata Trump.

Hingga kini, Iran belum secara terbuka menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan uranium yang telah diperkaya. Pemerintah Iran juga terus menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai.

Baca Juga: Pengadilan AS Batalkan Tarif Global 10 Persen Kebijakan Donald Trump

Pada hari yang sama, Trump turut mengungkapkan bahwa pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk mengaktifkan kembali “Project Freedom”, sebuah operasi militer Amerika Serikat yang bertujuan mengawal kapal-kapal komersial keluar dari Selat Hormuz.

Menurut Trump, operasi tersebut kemungkinan akan dijalankan dengan cakupan yang lebih luas. Namun, ia menegaskan belum ada keputusan final terkait pelaksanaan kembali operasi tersebut.

Ketegangan di kawasan Selat Hormuz masih berlangsung setelah pasukan AS dan Iran dilaporkan beberapa kali terlibat baku tembak sejak gencatan senjata mulai berlaku bulan lalu.

(Sumber: Antara)

x|close