Ntvnews.id, Taipei - Taiwan merespons pernyataan Presiden China Xi Jinping yang memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak mengambil langkah keliru terkait Taiwan.
Pemerintah Taiwan menegaskan bahwa China merupakan “satu-satunya risiko” bagi stabilitas dan perdamaian di kawasan.
Dilansir dari AFP, Jumat, 15 Mei 2026, Taiwan juga menyatakan Amerika Serikat selama ini telah berulang kali menunjukkan dukungannya terhadap Taipei.
Sebelumnya, Xi Jinping mengingatkan Trump agar berhati-hati dalam menangani isu Taiwan karena dapat memicu konflik antara dua negara besar tersebut.
Peringatan itu disampaikan Xi saat menerima kunjungan Trump di China pada Kamis, 14 Mei 2026. Dalam pertemuan tersebut, Xi menegaskan bahwa China dan AS seharusnya menjadi mitra, bukan rival, sembari menyoroti posisi Taiwan yang diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayahnya.
"Masalah Taiwan merupakan isu terpenting dalam hubungan China-AS," kata Xi, berdasarkan pernyataan media pemerintah China.
"Jika ditangani dengan salah, kedua negara bisa berselisih atau bahkan terlibat konflik, yang akan mendorong seluruh hubungan China-AS ke dalam situasi yang sangat berbahaya," tambahnya.
Arsip - Presiden China Xi Jinping (kanan) bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Busan, Korea Selatan 30 Oktober 2025.(ANTARA/HO-Xinhua/Huang Jingwen) (Antara)
Xi juga menilai China dan Amerika Serikat seharusnya mengedepankan kerja sama ketimbang memperbesar persaingan di tengah dinamika geopolitik global saat ini.
Selain itu, Xi mempertanyakan apakah kedua negara mampu mengesampingkan perbedaan dan mengutamakan kepentingan bersama demi stabilitas dunia.
Di sisi lain, Trump sebelumnya menyampaikan rencananya membahas penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan bersama Xi Jinping. Sikap tersebut dinilai berbeda dari kebijakan historis Washington yang selama ini enggan berkonsultasi dengan Beijing terkait urusan persenjataan Taiwan.
Sejumlah analis menilai peringatan Xi bukan sekadar pernyataan diplomatik biasa. Editor newsletter China Neican, Adam Ni, mengatakan bahasa tegas semacam itu memang lazim dalam kebijakan luar negeri China, namun jarang disampaikan langsung oleh Xi Jinping.
"Xi ingin memperjelas bahwa ia menganggap isu Taiwan sebagai sumbu konflik potensial antara dua negara adidaya ini," kata Ni.
China Taiwan (Istimewa)