Ntvnews.id, Kuala Lumpur - Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan menegaskan multilateralisme tetap menjadi fondasi utama tata kelola global dan penting untuk menciptakan sistem internasional yang adil.
Pernyataan tersebut disampaikan Hasan saat menghadiri pertemuan tingkat menteri luar negeri BRICS di New Delhi, India, Jumat, 15 Mei 2026.
"Multilateralisme tetap menjadi landasan utama tata kelola global. Hal ini sangat penting bagi terciptanya sistem internasional berbasis aturan agar setiap negara, tanpa memandang ukuran maupun kekuatannya, memiliki suara yang adil," kata Hasan dalam keterangan yang diterima di Kuala Lumpur, Malaysia.
Dalam forum tersebut, Hasan menyebut tata kelola global saat ini berada di ambang keruntuhan akibat berbagai persoalan besar yang dihadapi dunia.
Ia menilai ketimpangan yang semakin tajam, krisis utang, perubahan iklim, hingga kebijakan perdagangan unilateral telah menggerus kepercayaan terhadap multilateralisme dan kerja sama internasional.
"Kini, situasinya telah mencapai titik yang sama sekali tidak dapat dipertahankan lagi," tambahnya.
Menurut Hasan, negara-negara Global South telah lama menghadapi kesenjangan besar dalam hal representasi, akses, dan pengaruh dalam sistem global.
Baca Juga: Menlu Sugiono Hadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di India
Ia mengatakan kondisi dunia yang lebih digerakkan oleh kekuatan dibanding aturan membuat negara berkembang dan negara kecil rentan terhadap eksploitasi serta pengucilan.
Karena itu, Malaysia menekankan pentingnya reformasi terhadap arsitektur keuangan global dan penanganan krisis utang.
Malaysia menilai sistem keuangan internasional saat ini sudah tidak relevan karena belum mempertimbangkan kondisi khusus yang dihadapi negara berkembang.
"Namun, reformasi bukan berarti membongkar apa yang sudah ada atau meninggalkan multilateralisme. Reformasi berarti membuat sistem tersebut bekerja lebih baik dengan urgensi dan kebijaksanaan," jelas Hasan.
Baca Juga: Iran dan Rusia Bahas Isu Nuklir serta Konflik Timur Tengah di Forum BRICS
Selain itu, Malaysia menilai reformasi global yang bermakna harus didasarkan pada tiga prinsip utama, yakni inklusivitas, keadilan, dan kepercayaan.
Prinsip inklusivitas berarti setiap negara memiliki kesempatan yang sama dalam proses pengambilan keputusan global. Prinsip keadilan menekankan distribusi manfaat globalisasi yang lebih merata, sedangkan prinsip kepercayaan menuntut agar aturan dan komitmen internasional dihormati.
Malaysia juga memandang BRICS dapat berperan penting sebagai katalisator reformasi global yang lebih bermakna.
Hasan menegaskan Malaysia siap bekerja sama dengan seluruh mitra, khususnya melalui platform BRICS, untuk memperkuat sistem multilateral yang tangguh dan berkelanjutan bagi semua pihak.
(Sumber: Antara)
Menteri luar negeri negara anggota BRICS, termasuk Menlu Malaysia Mohamad Hassan dan Menlu RI Sugiono (dua kiri) berfoto bersama pada BRICS Foreign Ministers’ Meeting di New Delhi, India, Kamis (14/5/2026). (ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri) (Antara)