A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Pulang dari China, Rombongan Trump Buang Semua Barang karena Takut Dimata-matai - Ntvnews.id

Pulang dari China, Rombongan Trump Buang Semua Barang karena Takut Dimata-matai

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mei 2026, 09:04
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Presiden China Xi Jinping mengadakan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke China, di Gedung Agung Rakyat di Beijing, ibu kota China, Kamis (14/5/2026). /ANTARA/Xinhua/Ding Lin/aa. Presiden China Xi Jinping mengadakan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke China, di Gedung Agung Rakyat di Beijing, ibu kota China, Kamis (14/5/2026). /ANTARA/Xinhua/Ding Lin/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berlangsung hangat. Kedua pemimpin dunia itu saling melontarkan pujian di tengah hubungan Washington dan Beijing yang selama ini kerap diwarnai ketegangan.

Namun suasana berbeda justru terlihat saat rombongan Presiden AS bersiap meninggalkan China pada Jumat (15/5). Seluruh penumpang yang akan menaiki pesawat kepresidenan Air Force One diwajibkan membuang berbagai barang yang mereka bawa selama berada di China.

Kebijakan itu diungkapkan oleh jurnalis The New York Times, Emily Goodin. Ia menyebut staf Gedung Putih mengumpulkan seluruh barang yang diberikan pihak China sebelum rombongan naik ke Air Force One.

"Staf Amerika mengambil semua barang yang dibagikan oleh pejabat China - kartu identitas, telepon genggam sekali pakai dari staf Gedung Putih, lencana delegasi - mengumpulkannya sebelum kami naik AF1 (Air Force One) dan membuangnya ke tempat sampah di bawah tangga," demikian tulis Goodin dalam akun X.

Baca Juga: Cek Fakta: Menkeu Purbaya Mempersilakan Investor Cari Negara Lain

"Tidak ada barang dari China yang diizinkan masuk ke pesawat. Kami akan segera berangkat ke Amerika," ia melanjutkan.

Langkah tersebut memang merupakan bagian dari protokol kepresidenan Amerika Serikat. Namun tindakan itu juga dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap kemungkinan penyadapan maupun ancaman intelijen dari China.

Selama bertahun-tahun, badan keamanan dan intelijen AS menuduh China menjalankan operasi rahasia untuk melemahkan Amerika Serikat, termasuk melalui serangan siber. Salah satu yang paling mendapat sorotan ialah kelompok Salt Typhoon yang disebut menyerang infrastruktur penting AS dan diyakini sebagai aktor yang disponsori negara China.

Kecurigaan semacam itu menjadi bagian dari hubungan panjang AS dan China yang kerap naik turun. Persaingan ekonomi dan teknologi antara kedua negara terus berlangsung, ditambah sensitivitas politik terkait Taiwan yang membuat aktivitas intelijen kedua negara semakin aktif.

Baca Juga: Pemotor Kritis Usai Dihantam Mobil di Serang

Di tengah hubungan yang penuh kewaspadaan tersebut, Trump dan Xi Jinping tetap menunjukkan hubungan yang cair dalam pertemuan resmi mereka. Keduanya bahkan secara terbuka memuji capaian masing-masing sambil tetap membahas sejumlah isu sensitif.

Kasus dugaan operasi intelijen China di Amerika Serikat sendiri bukan hal baru. Sejumlah perkara sebelumnya pernah mencuat dan memicu perhatian besar.

Salah satunya melibatkan mantan Wali Kota Arcadia di California, Eileen Wang. NBC News melaporkan Wang didakwa karena diduga bertindak secara ilegal sebagai agen pemerintah asing dan disebut telah setuju untuk mengaku bersalah. Meski demikian, saat hadir di pengadilan pada Senin (11/5), ia dibebaskan dengan jaminan sebesar US$25 ribu atau sekitar Rp430 juta.

Baca Juga: Thailand Desak Iran Buka Jalur Selat Hormuz untuk Delapan Kapal yang Tertahan

Wang diketahui menjabat sebagai wali kota Arcadia di Los Angeles County sejak 2022. Jaksa menyebut Wang bersama rekannya, Yaoning "Mike" Sun, mempromosikan propaganda pro-PRC melalui situs web bernama "U.S. News Center". PRC merujuk pada People's Republic of China atau Republik Rakyat China (RRC).

Kasus lain yang juga menghebohkan terjadi tahun lalu ketika Departemen Kehakiman AS mengumumkan penangkapan dua warga negara China, Yuance Chen (38) dan Liren Lai (39). Keduanya dituduh melakukan spionase dan berusaha merekrut anggota Angkatan Laut Amerika Serikat sebagai aset intelijen.

"Kasus ini menggarisbawahi upaya berkelanjutan dan agresif pemerintah China untuk menyusup ke militer kita dan merusak keamanan nasional kita dari dalam," kata Jaksa Agung Pamela Bondi dalam sebuah pernyataan, diberitakan AFP.

x|close