Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan meminta sejumlah pemimpin negara Arab dan Muslim untuk menjalin hubungan resmi dengan Israel sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Iran guna mengakhiri perang.
Dilansir dari Axios, Selasa, 26 Mei 2026, permintaan tersebut disampaikan Trump saat melakukan percakapan telepon pada Sabtu, 23 Mei 2026, dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain.
Mengutip pejabat Amerika Serikat, laporan itu menyebut seluruh delapan pemimpin negara tersebut mendukung kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Teheran selama pembicaraan berlangsung.
"Kami mendukung Anda dalam kesepakatan ini," kata salah satu pejabat kepada Trump menurut laporan tersebut, dikutip dari Press TV, Selasa, 26 Mei 2026.
Seorang pejabat lain yang mengetahui isi percakapan menyebut Trump juga mengatakan dirinya akan berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan berharap dapat melibatkan Netanyahu dalam percakapan bersama para pemimpin Arab dan Muslim tersebut di kemudian hari.
Trump juga dilaporkan mendorong negara-negara yang belum tergabung dalam Abraham Accords agar segera menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Abraham Accords merupakan kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel yang dimediasi Amerika Serikat pada 2020 saat pemerintahan Trump.
Baca Juga: Trump Yakin Kesepakatan AS–Iran Segera Tercapai, Selat Hormuz Akan Dibuka Tanpa Tarif
Hingga kini, Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan diketahui belum memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel.
Salah satu pejabat mengungkapkan sempat terjadi “keheningan di saluran telepon” setelah Trump menyampaikan permintaannya. Presiden AS itu bahkan disebut sempat bercanda menanyakan apakah para pemimpin tersebut masih berada dalam sambungan telepon.
Perkembangan itu terjadi di tengah berlanjutnya negosiasi tidak langsung antara Teheran dan Washington yang dimediasi Pakistan serta difasilitasi Qatar.
Pembicaraan tersebut mengacu pada proposal 14 poin yang diajukan Iran untuk mencapai memorandum guna mengakhiri perang antara AS, Israel, dan Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei dalam wawancara televisi pada Sabtu mengatakan Iran dan AS semakin dekat untuk menyelesaikan memorandum 14 poin tersebut. Kesepakatan itu disebut bertujuan mengakhiri perang, menghentikan agresi maritim Amerika Serikat, dan membuka akses terhadap aset Iran yang diblokir.
Ilustrasi - Presiden AS Donald Trump (depan) menghadiri konferensi pers setelah KTT NATO di Den Haag, Belanda, pada 25 Juni 2025. ANTARA/HO- Xinhua/Zhao Dingzhe/pri. (Antara)
Ia menegaskan bahwa fokus utama Iran saat ini adalah mengakhiri perang AS-Israel berdasarkan proposal yang telah beberapa kali dipertukarkan dalam proses diplomasi.
Konflik antara Iran dengan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari setelah serangan udara dilancarkan ke sejumlah target di Iran. Serangan itu dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat dan komandan senior Iran, termasuk Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone setiap hari ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan. Teheran juga menutup Selat Hormuz, langkah yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Pada 8 April, gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan mulai diberlakukan setelah perang berlangsung selama 40 hari.
Meski negosiasi lanjutan telah berlangsung di Islamabad, hingga kini belum tercapai kesepakatan final akibat perbedaan sikap kedua pihak serta tuntutan maksimal dari Washington.
Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Xinhua) (Antara)