Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington tidak akan tergesa-gesa dalam mencapai kesepakatan apa pun dengan Iran.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan bahwa kebijakan blokade Amerika Serikat terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap diberlakukan sepenuhnya hingga kesepakatan benar-benar tercapai, disahkan, dan ditandatangani.
"Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar," tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip dari Reuters, Selasa, 26 Mei 2026.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan langsung dari pihak Iran terkait pernyataan tersebut. Namun, media Tasnim melaporkan bahwa Amerika Serikat masih disebut menghambat sejumlah poin dalam kesepakatan, termasuk permintaan Iran untuk pencairan dana yang dibekukan.
Sebelumnya, Trump sempat menyebut bahwa kedua negara telah mencapai kemajuan dalam pembahasan sebagian besar kesepahaman terkait rencana perdamaian untuk membuka Selat Hormuz.
Namun, seorang pejabat senior dalam pemerintahan Trump mengatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak akan ditandatangani dalam waktu dekat karena sistem di Iran dinilai “tidak bergerak cukup cepat”.
Baca Juga: Dalam Hitungan Minggu, 3 Penembakan Sasar Trump dan JD Vance di Washington
Pejabat itu juga menyebut bahwa Iran pada dasarnya telah menyetujui “pada prinsipnya” pembukaan Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade oleh Amerika Serikat. Meski begitu, rincian teknis terkait isu nuklir masih membutuhkan waktu negosiasi lebih lanjut.
Selain itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei disebut telah menyetujui kerangka umum kesepakatan tersebut.
Pejabat lain menyebut bahwa dalam kerangka yang diusulkan, para negosiator akan diberi waktu sekitar 60 hari untuk mencapai kesepakatan final.
Arsip - Kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz (21/7/2019). (ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa) (Antara)
Dalam beberapa bulan terakhir, popularitas Trump disebut mengalami tekanan akibat dampak konflik terhadap sektor energi di Amerika Serikat. Ia juga kerap menyoroti peluang tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang sebelumnya dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari.
Para pengamat menilai bahwa kesepakatan yang dapat memperkuat gencatan senjata berpotensi memberi stabilitas pada pasar, namun belum tentu langsung meredakan krisis energi global yang berdampak pada harga bahan bakar, pupuk, dan pangan di berbagai negara.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara kepada pers di Washington DC. (Foto: ANTARA/Anadolu Ajensi/pri) (Antara)