Ntvnews.id, Swiss - Liburan seorang wisatawan asal India di Swiss berakhir dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Hampir satu tahun setelah perjalanan tersebut usai, ia menerima surat denda pelanggaran lalu lintas dari otoritas Swiss dengan nilai mencapai sekitar Rp18 juta.
Pengalaman itu dibagikan melalui akun X miliknya. Turis perempuan bernama Poan Sapdi mengaku sedang mencari informasi mengenai kemungkinan untuk mengajukan keberatan, meminta pengurangan, atau bahkan membatalkan denda yang diterimanya.
"Apakah ada yang pernah menerima denda pelanggaran lalu lintas dari Swiss beberapa bulan setelah kembali dari liburan?" tulis Poan dalam unggahannya, seperti dikutip dari NDTV, Rabu, 3 Juni 2026.
"Kami baru saja menerima surat tilang hampir Rs 1 lakh (sekitar Rp 18,3 juta), hampir setahun setelah liburan kami. Kami tengah mencari tahu apakah ada cara untuk mengajukan banding, mengurangi, atau membatalkan denda tersebut," dia menambahkan.
Poan kemudian meminta bantuan kepada pengguna media sosial yang pernah mengalami kejadian serupa agar berbagi pengalaman dan solusi yang mungkin bisa ditempuh.
"Kami ingin mendengar pengalaman siapa pun yang pernah menghadapi hal serupa atau tahu prosesnya. Setiap bantuan akan sangat kami hargai," dia menambahkan.
Unggahan tersebut dengan cepat menjadi viral dan telah ditonton sekitar 1,3 juta kali. Kasus itu memicu perbincangan di kalangan pelancong India mengenai pentingnya memahami aturan lalu lintas di negara tujuan serta mencermati isi kontrak penyewaan kendaraan sebelum berkendara di luar negeri.
Baca Juga: Swiss Tolak Permintaan AS Terkait Operasi Perang ke Iran
Banyak pengguna media sosial berpendapat bahwa peluang untuk menghapus denda tersebut sangat kecil. Beberapa di antaranya bahkan mengingatkan bahwa proses banding dari luar negeri berpotensi menimbulkan konsekuensi tambahan, termasuk kemungkinan kenaikan sanksi. Karena itu, mereka menyarankan agar denda segera dibayarkan guna menghindari kendala saat mengajukan visa di masa mendatang.
"Tidak mungkin denda itu dihapus. Selain itu, karena Anda baru mengajukan banding setelah sekian waktu, pihak berwenang mungkin akan menjadikannya contoh agar orang lain tidak melakukan hal yang sama," ujar salah satu warganet di kolom komentar.
"Permintaan penghapusan denda dari luar negeri kemungkinan besar akan mengakibatkan peningkatan denda. Lebih baik bayar secepatnya agar tidak masuk daftar hitam untuk visa Schengen berikutnya," warganet lain menimpali.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Poan menjelaskan bahwa berdasarkan isi surat yang diterimanya, tersedia mekanisme untuk mengajukan keberatan atas denda tersebut.
"Kami akan membayarnya, tentu saja, tetapi disebutkan dalam surat bahwa kami dapat mengajukan keberatan atas denda tersebut. Kami ingin mengajukan keberatan atas biaya keterlambatan karena kami menerima pemberitahuan tersebut sangat terlambat," ujar Poan.
Sementara itu, sejumlah pengguna media sosial lainnya menilai jumlah denda yang dikenakan tergolong sangat besar. Ada pula yang menyarankan agar pembayaran dilakukan secara bertahap apabila memungkinkan.
"Pernah dapat denda dari Jerman setelah perjalanan sebesar 10.000. Sudah dibayar. Tapi 1 lakh itu gila," kata warganet lain.
"Denda lalu lintas Swiss sangat besar. Bayar saja, kalau tidak mereka akan terus menambahkan bunga. Anda juga bisa meminta rencana pembayaran, mungkin Anda bisa membayarnya secara bertahap, sedikit demi sedikit. Saya tidak yakin apakah Anda akan kembali ke sana," kata yang lain.
Bendera Swiss (Pixabay)