Ntvnews.id, Semarang - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meresmikan sekaligus meninjau Laboratorium Farmakologi terbaru milik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Semarang. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat kolaborasi antara regulator dan industri guna mendorong modernisasi jamu Indonesia berbasis riset dan pembuktian ilmiah.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar
Menurut Taruna, hingga saat ini baru 71 produk yang berstatus obat herbal terstandar (OHT), sementara jumlah fitofarmaka yang terdaftar di BPOM baru mencapai 20 produk.
"Tantangan utama bagi industri ini ke depannya adalah mempercepat transformasi jamu dari yang selama ini berbasis empiris (pengalaman turun-temurun) menjadi produk yang teruji secara ilmiah klinis," katanya di Semarang, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa transformasi berbasis sains tersebut menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing produk herbal Indonesia di pasar internasional. Pasalnya, peluang pasar global untuk produk obat berbahan alam masih sangat besar.
Pada 2024, nilai ekspor gabungan industri farmasi dan obat bahan alam tercatat mencapai Rp9,9 triliun. Namun dari angka tersebut, kontribusi ekspor obat bahan alam secara spesifik baru berada di kisaran Rp100,8 miliar.
Taruna menilai kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan industri herbal nasional agar mampu bersaing di pasar dunia.
Sebagai regulator, BPOM menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan industri obat bahan alam melalui pengawasan yang mencakup seluruh tahapan, mulai dari proses penelitian, produksi, hingga pengawasan produk yang telah beredar di masyarakat.
"Lebih dari itu, BPOM secara aktif mengawal jalannya riset, mendampingi pelaku usaha, dan mengedukasi masyarakat. Pendampingan nyata ini tercatat telah membawa dampak positif bagi 160 industri dan 1.104 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) obat bahan alam di seluruh Indonesia," ujar Taruna.
Ia juga mendorong pelaku industri untuk terus berinovasi melalui pemanfaatan teknologi modern dan penguatan konsep evidence-based herbal medicine atau pengobatan herbal berbasis bukti ilmiah agar menghasilkan produk yang aman, berkualitas, dan memiliki khasiat yang terukur.
Menurutnya, dengan dukungan regulasi yang tepat, inovasi yang lahir dari berbagai laboratorium di dalam negeri dapat memperkuat posisi jamu Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional.
BPOM turut memberikan apresiasi kepada Sido Muncul yang dinilai konsisten menjadi pelopor industri jamu berstandar internasional. Keberadaan laboratorium tersebut dianggap strategis mengingat Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar dengan lebih dari 30 ribu jenis tanaman yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan obat, produk kecantikan, maupun herbal unggulan.
"Semoga laboratorium ini dapat menjadi pusat inovasi sekaligus motor penggerak lahirnya produk herbal Indonesia berdaya saing global," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Sido Muncul, Irwan Hidayat, menyampaikan bahwa fasilitas tersebut merupakan laboratorium farmakologi pertama yang dimiliki langsung oleh pabrik jamu.
“Tujuan kami membangun ini adalah untuk mendapatkan bukti terhadap produk kami,” kata Irwan.
Ia berharap keberadaan laboratorium tersebut dapat menjadi contoh bagi pengembangan fasilitas serupa di berbagai daerah sehingga potensi sumber daya alam Indonesia dapat diteliti dan dimanfaatkan secara lebih cepat.
Laboratorium Farmakologi yang menjadi bagian dari pengembangan Pusat Penelitian Rempah Sido Muncul (PPRS) tersebut diharapkan mampu mempercepat hilirisasi hasil penelitian tanaman herbal. Melalui penguatan riset, pengujian laboratorium yang kredibel, serta penerapan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), kekayaan hayati Indonesia diharapkan dapat diolah menjadi produk herbal yang aman, bermutu tinggi, dan memiliki daya saing global.
(Sumber: Antara)
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar meresmikan sekaligus meninjau fasilitas Laboratorium Farmakologi terbaru milik PT Sido Muncul di Semarang, Selasa, 9 Juni 2026. (Antara)