Laga Perdana Iran di Piala Dunia 2026 Diwarnai Protes Politik dan Kontroversi Bendera Pra-Revolusi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Jun 2026, 11:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Bendera Pra-Revolusi Iran Bendera Pra-Revolusi Iran (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Perjalanan Timnas Iran di Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi sorotan karena aksi di lapangan, tetapi juga diwarnai ketegangan politik yang mencuat di luar stadion.

Dilansir dari Open Magazine, Selasa, 16 Juni 2026, Pertandingan pembuka Iran melawan Selandia Baru di Stadion SoFi, Los Angeles, Amerika Serikat, berubah menjadi pusat perhatian setelah diwarnai demonstrasi kelompok diaspora Iran dan perdebatan mengenai identitas nasional negara tersebut.

Pertandingan yang berakhir imbang 2-2 itu justru menyisakan lebih banyak pembicaraan mengenai peristiwa yang terjadi di dalam dan sekitar stadion dibanding hasil di lapangan.

Sejak beberapa jam sebelum laga dimulai, ratusan warga keturunan Iran yang tinggal di Amerika Serikat berkumpul di luar Stadion SoFi untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan di Teheran. Mereka membawa bendera Iran era sebelum Revolusi Islam 1979 yang dikenal dengan simbol singa dan matahari, serta menyerukan perubahan politik di negara asal mereka.

Aksi tersebut mencerminkan perpecahan yang masih kuat di kalangan diaspora Iran, khususnya di California Selatan yang menjadi rumah bagi komunitas Iran terbesar di luar negeri. Banyak anggota komunitas tersebut meninggalkan Iran setelah Revolusi Islam 1979 dan hingga kini tetap kritis terhadap sistem pemerintahan yang berlaku.

Baca Juga: Kemenkeu Pangkas Anggaran Dinas Perjalanan Luar Negeri Jadi Rp55 Miliar

Situasi sempat memanas ketika sejumlah demonstran dilaporkan merebut bendera resmi Iran dari seorang pendukung tim nasional. Bendera tersebut kemudian diinjak dan disobek di tengah kerumunan.

Bagi sebagian pengunjuk rasa, tim nasional sepak bola Iran dianggap tidak dapat dipisahkan dari simbol negara dan pemerintahan yang berkuasa saat ini.

“They are not my team. They are a government team, (Mereka buka tim saya, mereka tim pemerintah)," kata Rameileh Jaffrey, warga Los Angeles berusia 46 tahun yang meninggalkan Iran lebih dari satu dekade lalu.

Meski demikian, tidak semua pendukung memiliki pandangan serupa. Sebagian penonton yang datang ke stadion menilai sepak bola seharusnya dipisahkan dari urusan politik dan memilih hadir untuk memberikan dukungan kepada para pemain Iran.

Kontroversi juga muncul terkait penggunaan bendera singa dan matahari yang banyak dibawa demonstran. Bendera tersebut merupakan simbol nasional Iran sebelum Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki dan melahirkan Republik Islam Iran.

Bagi kelompok oposisi dan sebagian diaspora Iran, bendera tersebut melambangkan identitas nasional alternatif sekaligus simbol perlawanan terhadap pemerintahan saat ini. Namun, keberadaannya di arena Piala Dunia memicu perdebatan karena bertentangan dengan aturan yang diterapkan FIFA.

Bendera Pra-Revolusi Iran <b>(Istimewa)</b> Bendera Pra-Revolusi Iran (Istimewa)

Menjelang turnamen, FIFA telah menetapkan larangan terhadap berbagai atribut yang dianggap bermuatan politik, ofensif, atau diskriminatif di dalam area resmi Piala Dunia. Aturan yang diumumkan pada Mei lalu itu mencakup larangan penggunaan spanduk, bendera, selebaran, pakaian, maupun perlengkapan lain yang mengandung pesan politik.

Dengan demikian, pertandingan Iran kontra Selandia Baru tidak hanya menjadi ajang persaingan olahraga, tetapi juga mencerminkan kompleksitas dinamika politik dan identitas yang masih membayangi masyarakat Iran, baik di dalam negeri maupun di kalangan diaspora yang tersebar di berbagai negara.

x|close