Ntvnews.id, Taheran - Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Bahrain dan Kuwait melaporkan adanya serangan rudal balistik dan pesawat nirawak yang dilancarkan Iran pada Minggu, 28 Juni 2026. Serangan tersebut terjadi sehari setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer ke wilayah Iran.
Dilansir dari Al Arabiya, Senin, 29 Juni 2026, Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara negara itu berhasil menghadapi serangan yang disebut berasal dari rudal dan drone "bermusuhan". Pemerintah juga mengimbau seluruh warga untuk mematuhi instruksi keselamatan yang dikeluarkan oleh otoritas setempat.
"Pertahanan udara Kuwait saat ini sedang menghadapi serangan rudal dan drone musuh. Seluruh warga diminta mematuhi instruksi keselamatan dan keamanan yang dikeluarkan otoritas terkait," tulis militer Kuwait melalui akun resmi di platform X.
Di Bahrain, sirene peringatan serangan udara dilaporkan berbunyi sebanyak dua kali. Kementerian Dalam Negeri Bahrain meminta masyarakat tetap tenang dan segera mencari perlindungan di lokasi aman terdekat.
Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Bahrain mengecam serangan terbaru Iran yang disebut melibatkan sejumlah rudal balistik dan drone. Pemerintah Bahrain menilai serangan tersebut bukanlah peristiwa terpisah, melainkan bagian dari pola agresi berulang yang mengancam kedaulatan negara.
Baca Juga: Iran Murka, AS Kembali Serang Wilayahnya Usai Kesepakatan Damai
Militer Bahrain kemudian mengumumkan telah berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah proyektil yang digunakan dalam serangan tersebut. Otoritas militer juga menyatakan seluruh pasukan keamanan saat ini berada dalam status siaga penuh.
Meski demikian, Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan bahwa sebuah bangunan permukiman di Provinsi Muharraq mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden itu.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Kuwait turut mengecam serangan berulang yang dilakukan Iran, termasuk serangan yang terjadi pada dini hari waktu setempat.
Menurut pemerintah Kuwait, aksi militer Teheran dilakukan ketika berbagai upaya diplomatik regional dan internasional sedang berlangsung untuk menurunkan tensi konflik di kawasan.
"Kelanjutan serangan terang-terangan ini justru merusak berbagai upaya deeskalasi dan menjadi tantangan langsung terhadap kehendak internasional yang mendukung terciptanya stabilitas kawasan," demikian bunyi pernyataan kementerian tersebut.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu)
Militer Kuwait kemudian mengonfirmasi bahwa pihaknya berhasil mencegat dua rudal balistik tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Bahrain dan Kuwait. Teheran menyatakan serangan tersebut merupakan bentuk balasan atas operasi militer Amerika Serikat di wilayah Iran.
IRGC juga memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi lanjutan terhadap Iran akan mendapat balasan dengan respons yang disebut sebagai "menghancurkan".
Baca Juga: Penyebab Iran Tuding AS Langgar Kesepakatan Damai
Sebelumnya, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari kedua secara berturut-turut pada Sabtu, 27 Juni 2026. Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons atas serangan Iran terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pusat perdagangan energi dunia.
Rangkaian serangan balasan antara Iran dan Amerika Serikat tersebut semakin memperburuk situasi keamanan di Timur Tengah serta meningkatkan kekhawatiran internasional terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan.
Ilustrasi - Rudal Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)