Ntvnews.id, Washington D.C - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana menggelar pertunjukan kembang api berskala besar di kawasan Monumen Nasional Mount Rushmore, Keystone, South Dakota, pada Jumat, 4 Juli 2026. Agenda tersebut akan menjadi pertunjukan kembang api pertama yang digelar di lokasi ikonik itu dalam enam tahun terakhir.
Pelaksanaan acara ini tetap direncanakan meskipun wilayah South Dakota masih menghadapi kondisi kekeringan yang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan.
Pertunjukan di Mount Rushmore merupakan bagian dari rangkaian perayaan besar yang didorong pemerintahan Trump untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, yang dirayakan setiap Fourth of July.
Selain menggelar acara di Mount Rushmore, pemerintah Amerika Serikat juga berencana menyelenggarakan pertunjukan kembang api yang lebih besar dari biasanya di Washington.
Namun, rencana tersebut kembali memunculkan perdebatan lama mengenai potensi bahaya kembang api terhadap kawasan hutan Black Hills National Forest yang mengelilingi monumen pahatan empat mantan presiden Amerika Serikat tersebut.
Trump, yang dijadwalkan hadir dalam acara itu, sejak lama menolak kekhawatiran terkait ancaman kebakaran hutan akibat pertunjukan kembang api. Pada 2020, ia bahkan mencabut larangan pertunjukan kembang api di Mount Rushmore yang sebelumnya diberlakukan oleh National Park Service (NPS) selama 11 tahun.
Pada tahun ini, pemerintahannya kembali menegaskan bahwa seluruh rangkaian pertunjukan akan dilaksanakan dengan menerapkan standar keselamatan yang sangat ketat.
Meski demikian, pihak yang menentang penyelenggaraan acara menilai kondisi lingkungan saat ini, mulai dari tingkat kekeringan hingga suhu udara yang hangat, justru meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan.
Baca Juga: Trump Sebut AS Lebih Banyak Biayai NATO tapi tanpa Manfaat Sepadan
"Kembang api di Mount Rushmore adalah ide yang sangat buruk," kata Ketua Sierra Club South Dakota, Jay Davis.
"Kami sedang menghadapi kekeringan yang serius."
Kekhawatiran tersebut semakin menguat karena hampir seluruh wilayah Pennington County, lokasi Mount Rushmore berada, saat ini mengalami kekeringan dengan tingkat keparahan mulai dari sedang hingga ekstrem.
Berdasarkan data National Weather Service, tingkat risiko kebakaran di wilayah tersebut sempat mencapai kategori "sangat tinggi" pada Senin sebelum turun menjadi kategori "sedang" pada Selasa.
Sementara itu, National Interagency Fire Center memperkirakan risiko kebakaran pada hari pelaksanaan acara, Jumat, berada pada tingkat sedang.
Juru bicara Gubernur South Dakota Larry Rhoden, Josie Harms, menyatakan bahwa pemerintah negara bagian dan federal akan menentukan keputusan akhir terkait pelaksanaan pertunjukan pada hari acara berlangsung.
Foto yang diambil pada 7 Mei 2026 ini memperlihatkan Gedung Putih di belakang lampu lalu lintas di Washington, D.C., Amerika Serikat. (ANTARA/Xinhua/Li Rui.) (Antara)
"Masyarakat tidak perlu khawatir karena kami mengambil setiap langkah pencegahan yang diperlukan," ujar Harms. Menurutnya, keputusan akhir akan didasarkan pada kondisi di lapangan agar perayaan dapat berlangsung secara aman dan bertanggung jawab.
Larry Rhoden, politikus Partai Republik, diketahui telah mengupayakan kembalinya pertunjukan kembang api di Mount Rushmore sejak tahun lalu dan menjadi salah satu pendukung utama penyelenggaraan acara tersebut.
Kontroversi mengenai penyelenggaraan pertunjukan kembang api di Mount Rushmore sendiri telah berlangsung selama bertahun-tahun dan kerap berubah seiring pergantian pemerintahan di Amerika Serikat.
Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)