Ntvnews.id, Moskow - Ketegangan terjadi di kawasan Atlantik Utara setelah sebuah pesawat patroli Rusia melakukan manuver yang dinilai tidak aman di dekat kapal induk utama Inggris yang tengah menjalankan operasi pertahanan udara NATO di perairan sekitar Islandia.
Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa pesawat patroli Rusia jenis Bear-F beberapa kali mendekati kelompok tempur kapal induk Inggris pada pekan lalu. Pesawat tersebut dilaporkan melintas terlalu dekat dengan kapal induk HMS Prince of Wales pada ketinggian rendah serta menjatuhkan sejumlah perangkat sonar di area sekitar armada tersebut.
Dilansir dari AFP, Selasa, 7 Juli 2026, Kementerian Pertahanan Inggris menyebut dua jet tempur F-35 milik Inggris kemudian diterbangkan dari HMS Prince of Wales untuk mencegat dan mengawal pesawat patroli Rusia hingga meninggalkan wilayah tersebut.
"Aktivitas ini tidak aman dan tidak profesional," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris tentang insiden hari Kamis lalu di Laut Norwegia di wilayah yang disebut Kutub Utara.
Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan kunjungan Menteri Pertahanan Inggris Dan Jarvis dan Menteri Luar Negeri Islandia Thorgerdur Katrin Gunnarsdottir ke HMS Prince of Wales pada akhir pekan lalu.
HMS Prince of Wales merupakan kapal induk utama Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang memimpin gugus tempur dalam misi menjaga keamanan Atlantik Utara dari apa yang disebut sebagai meningkatnya ancaman Rusia.
Baca Juga: Rusia Sebut NATO Masih Jadi Ancaman Keamanan, Soroti Agenda KTT di Turkiye
Dalam operasi tersebut, jet tempur F-35 untuk pertama kalinya menjalankan misi pertahanan udara NATO dari kapal induk yang berbasis di Eropa. Operasi ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara negara-negara NATO dan Rusia.
Sejumlah pakar militer dan pemimpin negara-negara Eropa menilai Rusia telah meningkatkan praktik yang dikenal sebagai "perang hibrida" di kawasan strategis tersebut.
"Kita hidup di masa yang semakin berbahaya dan tidak pasti, dan pengerahan seperti ini, yang didukung oleh sekutu dan mitra termasuk Islandia, meningkatkan pencegahan dan pertahanan kita sebagai bagian dari NATO," kata Jarvis dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, Gunnarsdottir menyatakan bahwa pengerahan armada tersebut menjadi "demonstrasi yang jelas tentang peningkatan kehadiran NATO di wilayah yang penting secara strategis ini".
Dan Jarvis sendiri baru menjabat sebagai Menteri Pertahanan Inggris kurang dari satu bulan setelah pendahulunya, John Healey, mengundurkan diri. Healey sebelumnya mengkritik pemerintah Inggris karena dinilai tidak mengalokasikan anggaran yang memadai dalam rencana modernisasi pertahanan nasional.
Ilustrasi - Deretan bendera negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). (Antara)
Pengunduran diri Healey memicu pembahasan intensif terkait tambahan pendanaan untuk Rencana Investasi Pertahanan Inggris selama 10 tahun.
Perdana Menteri Inggris yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Keir Starmer, pekan lalu mengumumkan rencana investasi tersebut dengan target pengeluaran hampir 300 miliar poundsterling atau sekitar US$397 miliar dalam empat tahun mendatang.
Dalam proposal tersebut, pemerintah Inggris memperkirakan tambahan anggaran sebesar 15 miliar poundsterling akan dialokasikan untuk sektor pertahanan hingga 2030. Tahun tersebut diperkirakan oleh intelijen Inggris sebagai periode ketika Rusia berpotensi melancarkan serangan terhadap negara anggota NATO.
Meski demikian, angka tambahan anggaran tersebut masih berada di bawah usulan Kementerian Pertahanan Inggris yang dilaporkan meminta tambahan dana sebesar 28 miliar poundsterling.
Ilustrasi - Jet tempur Angkatan Udara Inggris Typhoon Eurofighter mendemonstrasikan pencegatan pesawat angkatan udara Belgia saat mereka terbang di atas Inggris, Selasa 14 Januari 2020, sebagai bagian dari latihan NATO untuk menghalangi pesawat Rusia (Antara)