Iran Serang Fasilitas Militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai Balasan Serangan AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jul 2026, 05:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Rudal Iran. ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi - Rudal Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Iran menyatakan telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Bahrain dan Kuwait sebagai respons atas operasi militer Washington yang menghantam puluhan target di wilayah Iran.

Dilansir dari DW, Kamis, 9 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengumumkan pada Selasa malam bahwa pihaknya telah menyerang lebih dari 80 target di Iran, termasuk lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Serangan tersebut dilaporkan menghantam sejumlah wilayah, di antaranya Bandar Abbas dan Sirik. Media pemerintah Iran menyebut beberapa orang mengalami luka akibat serpihan ledakan.

Aksi militer itu terjadi setelah tiga kapal tanker minyak diserang di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menilai operasi militer AS tersebut "benar-benar diperlukan", dengan menyebut Iran "pada dasarnya melanggar gencatan senjata" setelah sejumlah kapal menjadi sasaran serangan.

Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf justru menyatakan Amerika Serikat yang telah melanggar nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) karena "mengganggu penyesuaian yang dilakukan Iran di Selat Hormuz".

Pada bulan lalu, Teheran dan Washington menandatangani MoU setebal 14 halaman yang bertujuan memperpanjang gencatan senjata serta mengakhiri konflik "di semua front".

Baca Juga: Iran Nilai Serangan AS Melanggar Kesepakatan Gencatan Senjata

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menuduh Washington melakukan "pelanggaran terang-terangan" terhadap nota kesepahaman tersebut.

Dalam pernyataannya, Araghchi mengatakan serangan AS, pemberlakuan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran, serta konflik yang masih berlangsung antara Israel dan Hizbullah telah membuat "bagian-bagian penting dan mendasar dari kesepahaman untuk mengakhiri perang menjadi tidak efektif".

Ia menegaskan Iran "tidak akan ragu" untuk mempertahankan "keutuhan wilayah, kedaulatan nasional, dan keamanan nasionalnya".

Araghchi turut memperingatkan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Menurutnya, Iran akan "menargetkan sumber dan titik asal" dari setiap serangan yang diarahkan ke wilayahnya.

Iran Laporkan Serangan Baru di Wilayah Pesisir

Media-media Iran melaporkan serangan kembali terjadi pada Rabu pagi di kota pelabuhan Bushehr, wilayah barat daya negara tersebut.

Kantor berita semi-resmi Mehr menyebut sejumlah ledakan terdengar di Bushehr dan daerah sekitarnya.

Sementara itu, seorang pejabat keamanan Bushehr mengatakan "proyektil musuh" menghantam dua markas militer, masing-masing berada di Kabupaten Dashti dan di dekat Kota Choghadak, sebagaimana dilaporkan kantor berita Fars.

Meski demikian, pejabat tersebut memastikan tidak ada korban jiwa akibat serangan itu.

Laporan mengenai dugaan serangan terhadap Pulau Kharg, terminal utama ekspor minyak Iran, juga sempat beredar. Namun, kantor berita Mehr membantah informasi tersebut.

Eskalasi konflik kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent hingga lebih dari 3 persen menjadi sekitar US$76 per barel.

Sebelumnya harga minyak sempat kembali normal setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata bulan lalu. Namun, meningkatnya ketegangan memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Kuwait dan Qatar Kecam Serangan Iran

Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh perahu cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO ISNA/Morteza Akhoundi <b>(Antara)</b> Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh perahu cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO ISNA/Morteza Akhoundi (Antara)

Negara-negara Teluk turut bereaksi atas perkembangan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam apa yang disebut sebagai "agresi Iran yang berulang dan keji" serta menyebut tindakan itu sebagai "agresi yang terang-terangan" yang menghambat berbagai upaya deeskalasi konflik.

Kuwait juga menegaskan memiliki hak "mengambil semua langkah yang diperlukan" demi menjaga keamanan dan kepentingan nasionalnya.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, mengatakan Doha menganggap Iran "sepenuhnya bertanggung jawab" atas dugaan serangan terhadap kapal Al-Rekayyat di sekitar Selat Hormuz.

Arab Saudi juga menyatakan Iran menyerang kapal tanker Saudi, Wadyan, saat melintasi kawasan tersebut.

Iran Klaim Serang 85 Instalasi Militer AS

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah melancarkan operasi gabungan rudal dan drone terhadap 85 instalasi militer utama Amerika Serikat di Pelabuhan Salman, Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.

"Pasukan angkatan laut dan kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam, dalam operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 instalasi militer utama Amerika di Pelabuhan Salman, wilayah Armada Kelima AS di Bahrain," demikian pernyataan IRGC.

Iran juga mengklaim menyerang Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait sebagai balasan atas serangan militer AS yang sebelumnya menghantam sejumlah pangkalan pesisir dan fasilitas sipil di Provinsi Hormozgan dan Mahshahr.

Menyusul serangan tersebut, pemerintah Bahrain mengaktifkan sirene peringatan bagi masyarakat. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban.

AS Sebut Operasi Militer sebagai Respons Serangan di Selat Hormuz

Amerika Serikat menegaskan operasi militernya dilakukan sebagai respons terhadap serangan terhadap tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS menghantam Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik.

Washington menyatakan aksi militer itu merupakan balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, meski Teheran belum secara langsung mengakui bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Badan UK Marine Trade Operations (UKMTO) sebelumnya melaporkan sebuah kapal tanker mengalami kebakaran setelah ruang mesinnya dihantam proyektil tak dikenal pada Senin.

Pada Selasa, UKMTO kembali mencatat dua insiden terpisah yang menimpa kapal tanker di kawasan Selat Hormuz. Satu kapal tetap dapat melanjutkan pelayaran, sementara kapal lainnya mengalami kerusakan ringan pada bagian struktur.

Isi Pokok Nota Kesepahaman AS-Iran

Pada 17 Juni 2026, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai langkah awal memperpanjang gencatan senjata.

Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, rencana investasi senilai US$300 miliar untuk mendukung rekonstruksi Iran, serta komitmen Washington mengakhiri "segala jenis sanksi" terhadap Teheran.

Namun, perjanjian itu tidak mencakup isu program nuklir Iran, yang selama ini menjadi salah satu sumber utama perselisihan antara kedua negara.

x|close