Ntvnews.id, Paris - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada akhir Juni diduga menyebabkan sedikitnya 14.000 kematian di enam negara yang paling terdampak.
Angka tersebut diperoleh dari data kematian awal dan estimasi para peneliti, yang menunjukkan jumlah korban jiwa jauh melampaui tingkat kematian normal, sebagaimana dilaporkan Politico.
Dilansir dari Sputnik, Rabu, 15 Juli 2026, berdasarkan laporan yang dirilis pada Senin, sekitar 2.000 kematian dini terjadi di Prancis, 1.740 di Belgia, 6.800 di Jerman, serta 480 di Belanda selama paruh kedua Juni.
Sementara itu, Spanyol dan Inggris juga mengalami dampak signifikan dari cuaca panas ekstrem, dengan estimasi sekitar 810 kematian di Spanyol dan 2.200 kematian di Inggris pada periode yang sama.
Baca Juga: Gelombang Panas Panggang AS, Suhu Tembus 43 Derajat Celsius
Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa lonjakan angka kematian diduga kuat berkaitan dengan gelombang panas. Para peneliti menyebut tidak menemukan penyebab lain maupun ancaman kesehatan masyarakat yang dapat menjelaskan peningkatan jumlah korban jiwa tersebut.
Gelombang panas mulai melanda berbagai wilayah Eropa sejak pertengahan Juni. Suhu udara di sejumlah negara mendekati 40 derajat Celsius, bahkan di beberapa kawasan tercatat melampaui angka tersebut.
Memasuki pekan terakhir Juni, sejumlah negara di Eropa juga mencatat rekor suhu tertinggi baru selama berlangsungnya gelombang panas.
Gelombang Panas (Istimewa)