Jaringan Kriminal India Resahkan Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Jul 2026, 09:32
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Foto bendera India. Ilustrasi - Foto bendera India. (ANTARA/Shutterstock)

Ntvnews.id, New Delhi - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) meluncurkan operasi internasional bertajuk Operation Hard Ball yang disebut sebagai tindakan penegakan hukum terbesar terhadap kelompok kejahatan terorganisir asal India.

Dilansir dari DW, Jumat, 17 Juli 2026, Operasi yang digelar pekan lalu itu menghasilkan penangkapan 24 orang di Amerika Serikat, Kanada, dan Spanyol, serta dakwaan terhadap 37 terdakwa yang diduga terlibat dalam berbagai aksi kriminal lintas negara.

Tokoh utama dalam kasus ini adalah Lawrence Bishnoi, gangster asal India yang kini menjalani hukuman penjara. Jaksa Amerika Serikat menuduh Bishnoi tetap mengendalikan jaringan kriminal dari balik penjara di negara bagian Gujarat melalui telepon seluler yang diselundupkan. Ia didakwa mengatur pembunuhan, pemerasan, hingga perdagangan narkoba internasional.

Sementara itu, Satinderjeet Singh Brar alias Goldy Brar, yang disebut sebagai tangan kanan Bishnoi, masih menjadi buronan. FBI menawarkan hadiah sebesar US$50.000 atau sekitar Rp901,8 juta bagi siapa pun yang dapat membantu penangkapannya.

India Sambut Dakwaan AS

Pemerintah India menyambut positif dakwaan yang diajukan Amerika Serikat terhadap Bishnoi dan sejumlah rekannya, termasuk terkait dugaan keterlibatan dalam pembunuhan pemimpin separatis Sikh Hardeep Singh Nijjar di Kanada pada 2023.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, mengatakan kasus tersebut menunjukkan ancaman serius kejahatan terorganisir lintas negara yang terus berkembang. Ia juga menegaskan hubungan India dan Amerika Serikat dalam memerangi kejahatan terorganisir maupun terorisme semakin erat.

Menurut dokumen dakwaan, organisasi Bishnoi membangun pengaruh di kalangan diaspora India melalui aksi kekerasan, perdagangan narkoba, dan pemerasan. Kelompok itu diduga memaksa para pelaku usaha di Amerika Utara membayar jutaan dolar serta memerintahkan tindakan kekerasan terhadap mereka yang menolak.

Jaksa AS juga menuduh Bishnoi dan Goldy Brar memerintahkan pembunuhan Hardeep Singh Nijjar di luar sebuah gurdwara atau tempat ibadah umat Sikh di Surrey, British Columbia, Kanada, pada 2023. Peristiwa tersebut sempat memicu memburuknya hubungan diplomatik India dan Kanada. Namun, dokumen dakwaan tidak menuduh pemerintah India terlibat dalam pembunuhan itu.

Generasi Baru Kejahatan Terorganisir

Para pengamat menilai kelompok Bishnoi mencerminkan perubahan besar dalam pola kejahatan terorganisir asal India.

Sebelumnya, pada dekade 1980-an dan 1990-an, sindikat D-Company yang dipimpin Dawood Ibrahim menguasai jaringan penyelundupan, perdagangan narkoba, dan pemerasan dari Dubai hingga Karachi. Mantan tangan kanannya, Chhota Rajan, kemudian membangun kelompok tandingan yang beroperasi di Asia Tenggara sebelum ditangkap di Indonesia pada 2015.

Spesialis pemberantasan narkoba Shreekumar Menon mengatakan kelompok Bishnoi berbeda dari sindikat-sindikat terdahulu.

"Berbeda dari D-Company milik Dawood Ibrahim atau sindikat Chhota Rajan, yang sebagian besar beroperasi lewat poros Dubai-Mumbai memakai jaringan penyelundupan yang berpusat pada emas dan perak, kelompok Bishnoi mewakili generasi baru kejahatan terorganisir India," katanya kepada DW.

Menurut Menon, jaringan tersebut beroperasi dari India hingga Kanada dan Amerika Serikat tanpa bergantung pada perlindungan pemerintah mana pun. Mereka mengandalkan diaspora India, komunikasi digital, perdagangan narkoba, serta senjata api untuk memperluas pengaruh dan menjalankan aksi pemerasan.

Ia juga menilai berkembangnya komunitas diaspora India di Amerika Utara membuka peluang baru bagi kelompok kriminal tersebut.

Kelompok Bishnoi disebut memanfaatkan teknologi yang lebih maju dibanding pendahulunya, termasuk komunikasi terenkripsi dan operator di luar negeri untuk mengendalikan aktivitas kriminal.

Baca Juga: Kapal Wisata Terbalik, 15 Turis India Tewas

"Meski belum bisa disandingkan dengan skala kartel Kolombia, kemunculannya di lanskap narkoba dan pemerasan Amerika Utara menandai perubahan yang signifikan. Kelompok-kelompok India selama ini dipandang sebagai pemain regional, tapi kasus Bishnoi menunjukkan mereka kini mulai jadi pemain dalam kejahatan terorganisir lintas negara," ujar Menon.

Teknologi Ubah Pola Operasi

Penyidik menyebut jaringan Bishnoi lebih muda, terdesentralisasi, dan sangat bergantung pada teknologi digital.

Mereka menggabungkan jaringan lokal di India dengan mitra di luar negeri untuk mengidentifikasi target, mengumpulkan uang hasil pemerasan, mengedarkan narkoba, hingga memperoleh senjata.

Aplikasi pesan terenkripsi memungkinkan para pemimpin kelompok tetap mengendalikan operasi dari balik penjara, sementara media sosial dimanfaatkan untuk perekrutan anggota, intimidasi, dan propaganda.

Akibatnya, diaspora India di berbagai negara menjadi sasaran sekaligus peluang bagi aktivitas kejahatan tersebut. Sejumlah pemilik usaha di Kanada, Amerika Serikat, dan Inggris dilaporkan menerima ancaman pemerasan yang dikaitkan dengan sindikat asal India.

Fenomena ini membuat aparat penegak hukum harus memperkuat kerja sama lintas negara, mulai dari pertukaran intelijen, pelacakan komunikasi terenkripsi, hingga penelusuran aliran dana internasional.

Penegakan Hukum Harus Beradaptasi

Direktur Eksekutif Institute for Conflict Management, Ajay Sahni, menilai Operation Hard Ball sebenarnya bukan menandai lahirnya kejahatan lintas negara asal India, melainkan keberhasilan aparat internasional mengejar ancaman yang telah berkembang selama bertahun-tahun.

"Kasus Bishnoi bukan menandai awal dari internasionalisasi kejahatan terorganisir India," kata Sahni kepada DW. "Ini menandai titik ketika penegakan hukum internasional akhirnya berhasil mengejar ancaman yang sudah berkembang selama puluhan tahun."

Ia menambahkan bahwa kemajuan teknologi telah mengubah cara jaringan kriminal beroperasi.

"Komunikasi terenkripsi, mata uang kripto, dan biaya perjalanan internasional yang murah memungkinkan sel-sel yang terhubung secara longgar untuk berkolaborasi lintas benua, tanpa hierarki kaku yang diandalkan sindikat-sindikat lama," katanya.

Ilustrasi Penjara Ilustrasi Penjara

Menurut Sahni, "Model bisnisnya tidak berubah, pemerasan, narkotika, pembunuhan bayaran, dan kejahatan finansial tetap jadi sumber pendapatan utama. Yang berubah adalah kecepatan, jangkauan, dan daya tahan jaringan-jaringan ini."

Ia juga menyoroti tantangan aparat penegak hukum dalam menghadapi kejahatan modern.

"Kejahatan terorganisir semakin bersifat lintas negara, tapi penegakan hukum cenderung masih bersifat nasional," katanya, seraya menambahkan bahwa "jaringan kriminal memanfaatkan fragmentasi yurisdiksi, sementara para penyidik harus menghadapi berbagai hambatan hukum, diplomatik, dan prosedural sebelum aksi terkoordinasi bisa dilakukan."

Pandangan senada disampaikan mantan pejabat senior intelijen India, Avinash Mohananey. Ia menilai jaringan Bishnoi merupakan kelanjutan dari evolusi sindikat kriminal India yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

"Jaringan Bishnoi bukan sindikat kejahatan India pertama yang mendunia. Seperti D-Company dan sindikat Chhota Rajan sebelumnya, jaringan ini membangun operasi lintas negara untuk pemerasan, pembunuhan bayaran, perdagangan narkoba, dan mencari tempat perlindungan. Yang pada akhirnya melemahkan sindikat-sindikat itu adalah kerja sama internasional yang konsisten," ujarnya kepada DW.

"Tindakan otoritas AS, yang bekerja sama dengan mitra internasional, berpotensi memberi pukulan telak bagi jaringan Bishnoi. Sindikat kejahatan India sebelumnya baru berhasil dilumpuhkan ketika pertukaran intelijen dan kerja sama penegakan hukum melintasi batas negara" pungkasnya.

x|close