Ntvnews.id, Washington D.C - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan Washington akan memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran melalui penerapan sanksi baru. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengisolasi perekonomian Iran dan menekan pemerintahan di Teheran.
"Di seluruh dunia, tujuan kami adalah memutus setiap jalur kehidupan ekonomi yang menopang rezim tirani ini hingga Teheran terisolasi sendirian," ujar Bessent kepada wartawan, dikutip dari AFP, Rabu, 26 Agustus 2026.
"Kami akan meminta pertanggungjawaban semua pihak, dan ini adalah langkah melumpuhkan ekonomi rezim tersebut," lanjutnya.
Bessent memperingatkan negara-negara yang memilih tidak mengikuti kebijakan sanksi AS akan menghadapi konsekuensi dari upaya Washington mengisolasi Iran.
Ia mengatakan Presiden AS Donald Trump tengah melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin dunia untuk mendorong mereka menghentikan hubungan ekonomi dengan Teheran.
Baca Juga: AS Peringatkan China soal Risiko Sanksi Jika Tetap Berbisnis dengan Iran
Departemen Keuangan AS menyebut perluasan sanksi sekunder akan mencakup sejumlah sektor strategis Iran, termasuk aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan industri pelayaran.
Washington juga mengusulkan sanksi baru terhadap 60 individu, perusahaan, dan kapal yang diduga terlibat dalam membantu Iran memperoleh pendapatan dari minyak, melakukan pengadaan persenjataan, serta menjalankan aktivitas siber.
Target sanksi tersebut tersebar di berbagai negara dan wilayah, antara lain Uni Emirat Arab, Hong Kong, China, Singapura, dan sejumlah negara Eropa.
Bessent menegaskan entitas yang terlibat dalam aktivitas keuangan ilegal dengan Iran juga akan menghadapi konsekuensi dari sistem keuangan AS.
Bessent menegaskan, entitas mana pun "yang memfasilitasi pencucian uang atas nama Iran akan dikeluarkan dari sistem dolar AS."
Iran Tak Gentar
Pemerintah Iran merespons ancaman tersebut dengan sikap menantang. Teheran bahkan memperkirakan kebijakan Washington akan berujung pada "kekalahan lain" bagi Amerika Serikat.
"Kami sudah lama menantikan rencana-rencana ini; pemerintah siap-dan memang sudah siap-serta memiliki rencana dua tahun untuk menangani situasi ini," kata Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh.
Sebelumnya, pemerintah AS telah mengumumkan rencana operasi ekonomi berskala besar terhadap Iran. Washington juga memperingatkan negara-negara lain mengenai konsekuensi yang mungkin mereka hadapi jika menolak bergabung dalam kampanye tekanan tersebut.
Kebijakan itu diumumkan hampir enam bulan setelah perang antara AS dan Iran dimulai. Konflik tersebut kini berada dalam kondisi buntu, sementara proses perundingan damai terhenti dan Iran membatasi sebagian besar lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Bessent sebelumnya menyebut strategi tersebut sebagai "D-Day ekonomi" terhadap Iran, yang menggambarkan rencana serangan finansial berskala besar.
Namun, dalam pengumuman tersebut Washington belum menyebut secara spesifik negara mana saja yang akan menjadi sasaran kebijakan selain Iran. Pemerintah AS juga belum menetapkan jadwal pasti penerapan langkah tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent berbicara dalam konferensi pers di Cash Room Departemen Keuangan di Washington, D.C., pada 24 Agustus 2026, saat ia mengumumkan serangkaian sanksi baru terhadap Iran dan menyebut langkah-langkah tersebut sebagai (Antara)