Prabowo Dorong Teknologi Desalinasi untuk Penuhi Kebutuhan Air Daerah Terdampak Bencana di NTT

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Agu 2026, 17:21
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden RI Prabowo Subianto langsung menggelar rapat untuk membahas penanganan gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) Presiden RI Prabowo Subianto langsung menggelar rapat untuk membahas penanganan gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mendorong pemanfaatan sains dan teknologi untuk memperkuat ketahanan air di daerah terdampak bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya melalui pengembangan teknologi desalinasi. Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memimpin rapat penanganan bencana gempa bumi di Posko Penanganan Gempa Bumi di Batalyon Yonif TP 834/WM, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT, pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Dalam rapat tersebut, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo melaporkan kondisi kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah terdampak gempa. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Pulau Palue, Kabupaten Sikka, yang memiliki kebutuhan air sangat mendasar karena karakteristik wilayahnya sebagai pulau vulkanik dan terbatasnya sumber air.

"Jadi Palue ini, di samping jalan yang memang sudah lama kita preservasi, juga kebutuhan mendasar air akan kita utamakan, Pak," tuturnya.

Menteri PU menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah untuk memperbaiki fasilitas penampungan air hujan yang terdampak gempa. Selain itu, pemerintah juga menjajaki pemanfaatan teknologi Reverse Osmosis untuk mengolah air laut menjadi air tawar sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan air masyarakat di Palue.

"Saya juga sudah telepon Kepala BRIN, Pak. Akan mencoba teknologi Reverse Osmosis, yang air laut itu bisa menjadi air tawar," ucap Menteri PU.

Baca Juga: Kunjungi Posko Pengungsi Gempa NTT di Nagekeo, Prabowo Sampaikan Belasungkawa

Menanggapi kondisi tersebut, Presiden Prabowo meminta pengembangan teknologi desalinasi yang dapat dibangun dan dikembangkan di dalam negeri. Presiden mengarahkan agar pengembangan tersebut melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Pertahanan (Unhan), TNI, serta fakultas-fakultas teknik.

“Saya minta BRIN, mungkin dengan Unhan, TNI, dan fakultas-fakultas teknik, saya minta teknologi desalinasi untuk yang kita mampu bangun sendiri jadi segera dikirim ke daerah-daerah yang sangat membutuhkan,” ujar Presiden.

Presiden Prabowo menilai kebutuhan air harus ditangani tidak hanya dalam jangka pendek selama masa tanggap darurat, tetapi juga melalui upaya jangka menengah dan jangka panjang. Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat menjadi bagian penting dalam memastikan ketersediaan air bagi masyarakat di wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber air.

“Air sangat penting. Jadi selain jangka pendek, kita harus berpikir melakukan upaya-upaya jangka menengah dan jangka panjang,” tegas Presiden.

Presiden Prabowo juga menilai perkembangan teknologi telah membuat teknologi desalinasi semakin memungkinkan untuk diterapkan secara luas. Menurutnya, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu solusi yang sesuai dengan karakteristik wilayah NTT, khususnya daerah kepulauan dan kawasan pesisir yang membutuhkan sumber air bersih tambahan.

“Musibah bencana itu memicu kita untuk berpikir lebih kreatif. Dengan ini, kita sadar bahwa untuk daerah sini penghijauan, dan air, ini kita sekarang sudah ada teknologi sains dan teknologi sudah membuat banyak teknologi jadi makin murah. Desalinasi 30 tahun yang lalu tidak terjangkau, hanya bangsa yang kaya yang bisa. Sekarang kita bisa bikin desalinasi untuk tingkat desa,” ujar Presiden Prabowo.

Lebih lanjut, Presiden menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi desalinasi perlu diintegrasikan dengan pengembangan energi yang sesuai dengan potensi wilayah, salah satunya melalui pemanfaatan tenaga surya untuk mendukung kebutuhan energi di daerah yang belum produktif.

"Di sini juga kalau perlu mungkin, ya gunung-gunung yang belum produktif kita bikin PLTS, PLTS, PLTS. Berapa gigawatt PLTS di sini untuk sumber energi untuk proyek-proyek ekonomi yang bisa produktif. Saya optimis daerah sini nanti bisa jadi sumber pangan bangsa dan dunia," ucap Presiden.

Presiden Prabowo juga mendorong agar pemanfaatan teknologi tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan potensi ekonomi NTT. Selain pertanian, Presiden melihat sektor perikanan dan rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sehingga pemulihan pascabencana dapat sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas daerah.

“Perikanan sangat potensial daerah sini. Kalau dari atas pesawat itu, lautnya itu biru dalam, belum tercemar. Nanti perikanan rumput laut kalian kembangkan di sini. Makanya tadi saya tanya pantainya dan sebagainya,” ujar Presiden.

Pemulihan pascabencana diarahkan bukan sekadar untuk membangun kembali, tetapi juga membangun lebih kuat dan produktif. Melalui ketersediaan air, energi bersih, penghijauan, serta pengembangan pertanian dan sektor kelautan, pemerintah ingin membuka jalan bagi NTT untuk tumbuh menjadi salah satu kekuatan pangan dan ekonomi nasional.

HIGHLIGHT

x|close