Ntvnews.id, Taheran - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai "ular". Ia menuding Netanyahu telah memperdaya pemerintah Amerika Serikat (AS) hingga terlibat dalam perang melawan Iran.
Araghchi menyampaikan tudingan tersebut melalui akun X pada Senin, 31 Agustus 2026. Ia mengutip pernyataan Netanyahu dalam bahasa Ibrani yang disebutnya menunjukkan kebanggaan sang perdana menteri Israel karena berhasil membuat pemerintahan AS berperang melawan Iran demi kepentingan Israel.
"Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membual telah menipu Pemerintahan AS untuk berperang melawan Iran atas nama Israel," kata Araghchi di X, dikurip dari AFP, Selasa, 1 September 2026.
Araghchi juga menuding Netanyahu secara terbuka menceritakan keberhasilannya dalam memengaruhi opini dan kebijakan AS. Menurutnya, Netanyahu mengklaim memiliki pengaruh besar melalui sekitar 1.000 jam waktu siaran di berbagai jaringan televisi AS.
"Dalam bahasa Inggris, dia memuji kepemimpinan POTUS (President of the United States/Presiden Amerika Serikat. Serpent (ular)," imbuh dia.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.750 per Dolar AS, Seiring Memanasnya Konflik AS-Iran
Istilah serpent secara harfiah merujuk pada ular, khususnya ular besar atau berbisa. Namun, dalam tradisi keagamaan dan karya sastra masa lalu, istilah tersebut juga kerap dikaitkan dengan sosok iblis serta menggambarkan karakter yang licik dan penuh tipu daya.
Pernyataan Araghchi disampaikan ketika konflik antara AS dan Iran masih berlangsung. Pemerintahan Presiden Donald Trump bersama Israel sebelumnya melancarkan serangkaian serangan besar terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya. Beberapa pejabat senior di bidang pertahanan Iran juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Pasca-kematian Khamenei, posisi Pemimpin Tertinggi Iran kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Ia terpilih melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan konstitusi Iran.
Sebelumnya, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata pada April. Kedua negara kemudian menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni yang ditujukan untuk mengakhiri konflik.
Meski demikian, hubungan kedua negara kembali diwarnai ancaman dari Washington terhadap Teheran. Sebagian ancaman tidak diwujudkan, tetapi sejumlah lainnya berujung pada serangan militer.
Pasukan AS bahkan dilaporkan menyerang sejumlah infrastruktur sipil, termasuk jembatan. Tindakan terhadap fasilitas sipil tersebut dinilai dapat masuk dalam kategori kejahatan perang.
Di tengah konflik yang belum berakhir, Pakistan yang berperan sebagai mediator AS-Iran kini berupaya membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan. Upaya tersebut ditujukan untuk mencapai penghentian perang secara permanen, meski hingga saat ini belum terdapat perundingan baru.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi saat membahas kesepakatan dengan Amerika Serikat serta perkembangan regional dalam pertemuan dengan para duta besar dan perwakilan diplomatik dari negara-negara asing di Teheran, Iran (Antara)