Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Peringkat Kedua Terburuk Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Sep 2026, 10:18
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Calon penumpang pesawat berjalan menuju ruang keberangkatan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa, 8 September 2026. Berdasarkan data pengelola bandara hingga pukul 13.45 WIB, sebanyak 14 penerbangan berangkat dengan total 804 penumpang dan empat penerbangan tiba dengan total 222 penumpang setelah operasional bandara sempat ditutup selama dua hari akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau Calon penumpang pesawat berjalan menuju ruang keberangkatan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa, 8 September 2026. Berdasarkan data pengelola bandara hingga pukul 13.45 WIB, sebanyak 14 penerbangan berangkat dengan total 804 penumpang dan empat penerbangan tiba dengan total 222 penumpang setelah operasional bandara sempat ditutup selama dua hari akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Jakarta menempati posisi kedua sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Senin pagi. Kondisi tersebut berada dalam kategori tidak sehat berdasarkan pemantauan kualitas udara.

Mengacu pada data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 08.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta tercatat 170. Angka tersebut menunjukkan kategori tidak sehat, dengan polutan PM2.5 memiliki konsentrasi sebesar 82 mikrogram per meter kubik.

Kondisi kualitas udara tersebut berarti dapat memberikan dampak buruk bagi manusia maupun hewan yang termasuk kelompok sensitif. Selain itu, pencemaran udara juga berpotensi menimbulkan kerusakan pada tumbuhan serta memengaruhi nilai estetika lingkungan.

IQAir turut memberikan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat di Jakarta untuk menghadapi kondisi tersebut. Salah satunya adalah mengurangi atau menghindari aktivitas di luar ruangan.

Apabila harus melakukan kegiatan di luar ruangan, masyarakat disarankan mengenakan masker. Selain itu, jendela rumah sebaiknya ditutup guna mengurangi masuknya udara luar yang tercemar.

Baca Juga: Kualitas Udara Memburuk, PM Anwar Ibrahim Desak ASEAN Tinjau Aturan Kabut Asap

Sebagai perbandingan, kategori kualitas udara baik berada pada rentang PM2,5 sebesar 0-50. Pada kategori ini, kualitas udara tidak memberikan dampak terhadap kesehatan manusia maupun hewan serta tidak memengaruhi tumbuhan, bangunan, dan nilai estetika.

Sementara itu, kategori sedang memiliki rentang PM2,5 51-100. Kualitas udara dalam kategori tersebut umumnya tidak berdampak terhadap kesehatan manusia dan hewan, tetapi dapat memberikan pengaruh terhadap tumbuhan yang sensitif serta nilai estetika.

Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang PM2,5 200-299. Kondisi tersebut berpotensi merugikan kesehatan sejumlah kelompok masyarakat yang terpapar. Sementara kategori berbahaya berada pada rentang 300-500 dan secara umum dapat menimbulkan dampak kesehatan serius bagi masyarakat.

Dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk dunia, Baghdad, Irak berada di peringkat pertama dengan AQI 178. Jakarta menyusul di posisi kedua dengan angka 170, kemudian Dhaka, Bangladesh berada di urutan ketiga dengan 166, Kuala Lumpur, Malaysia di posisi keempat dengan 163, serta Ho Chi Minh City, Vietnam di urutan kelima dengan 157.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah menyiapkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS) untuk menghasilkan prediksi polusi udara yang lebih akurat.

Baca Juga: Kondisi Kualitas Udara Kalimantan Belum Pulih dari Karhutla, Wapres Minta Maaf

Pengembangan sistem tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya jangka panjang Pemprov DKI Jakarta untuk menekan dampak pencemaran udara sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

EWS kualitas udara juga dinilai penting, khususnya bagi masyarakat yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.

Kelompok rentan tersebut mencakup anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan, termasuk asma dan penyakit paru-paru lainnya.

Melalui informasi prakiraan kualitas udara yang lebih akurat dan mudah diperoleh, masyarakat diharapkan dapat melakukan tindakan pencegahan ketika kondisi udara diprediksi mengalami penurunan.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas fisik di ruang terbuka, serta membatasi paparan terhadap polusi udara yang dapat membahayakan kesehatan.

(Sumber: Antara)

x|close