Ntvnews.id, Jakarta - Masyarakat Indonesia kembali dihebohkan oleh kabar viral mengenai ramalan gempa bumi berkekuatan M 7 hingga M 9 yang diprediksi akan mengguncang wilayah Jawa dan Jakarta hingga akhir tahun 2026.
Menanggapi kekhawatiran publik tersebut, pakar gempa bumi dan tsunami dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Dr Daryono, mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai isu spekulatif yang tidak memiliki landasan ilmiah tersebut.
Hadir dalam program Dari Meja Redaksi bertajuk "Gunung Meletus Serentak, Panik Serempak?" di Nusantara TV, Senin (14/9) yang dipandu Host Chakry Miller, Daryono mengklarifikasi bahwa rumor tersebut bersumber dari pengamat cuaca amatir asal Kanada Frankie Macdonald yang tidak memiliki latar belakang keilmuan seismologi. Selain Daryono turut hadir Producer Eksekutif NTV Aris Munandar sebagai narasumber.
Menurut Daryono, narasi tersebut hanyalah tebakan superfisial tanpa metode penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Daryono menilai bahwa ramalan yang disebarkan di media sosial tersebut sama sekali tidak memenuhi kaidah sains kegempaan.
"Dia melakukan prediksi itu hanya asal ngomong, menduga-duga, atau riset yang mendalam? Datanya apa, metodenya apa? Kalau enggak bisa menyebutkan, gugur," ujar Daryono.
Daryono menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi di dunia yang sanggup memprediksi terjadinya gempa secara presisi.
"Gempa belum bisa diprediksi kapan, di mana, berapa besarnya," tandasnya.
Untuk membentengi masyarakat dari kepanikan akibat hoaks, Daryono membeberkan lima parameter utama dalam menilai keabsahan setiap klaim ramalan gempa.
Pertama, publik harus memeriksa apakah peramal memiliki pendidikan formal di bidang kegempaan.
Kedua, ramalan tersebut harus didasari riset ilmiah yang mendalam dengan kejelasan data serta metode.
Ketiga, ramalan yang valid harus mampu menyebutkan kepastian lokasi, waktu, dan besaran kekuatan gempa secara tepat.
Program DARI MEJA REDAKSI di Nusantara TV
Keempat, hasil kajian wajib mendapatkan verifikasi serta persetujuan (approval) dari lembaga resmi kegempaan di negara terkait.
Baca juga: DARI MEJA REDAKSI: Polisi Menggodok Siapa Dibalik Perusuh di Demo RUU Perampasan Aset
Kelima, jika salah satu saja kriteria ini tidak terpenuhi, maka klaim tersebut dipastikan gugur dan tidak perlu dihiraukan oleh masyarakat.
Daryono memaparkan bahwa negara maju seperti Amerika Serikat bahkan telah menyadari keterbatasan sains dalam meramal bencana
"Negara maju pun tidak bisa saat ini, belum bisa. Bahkan Amerika Serikat itu lempar handuk. 'Saya enggak mau lagi bermain-main dengan prediksi, saya akan memperkuat struktur bangunan-bangunan di Amerika,'" ucap Daryono.
Kendati menepis ramalan hoaks tersebut, Daryono mengingatkan fakta objektif bahwa wilayah Indonesia secara alami memang dikelilingi oleh aktivitas tektonik yang sangat aktif.
Indonesia terus terkompresi akibat dorongan lempeng Australia dari selatan, lempeng Pasifik dari timur, serta lempeng Filipina dan Asia.
Tekanan antar-lempeng tersebut membentuk 14 segmen Megathrust yang membentang dari Sumatra hingga Papua, serta memicu sesar darat aktif seperti Sesar Great Sumatra, Cimandiri, Lembang, Baribis, Opak, hingga Palu-Koro.
Namun, Daryono menekankan bahwa proses tektonik ini juga memberikan karunia berupa kekayaan mineral seperti bijih besi, baja, timah, nikel, emas, hingga minyak dan gas bumi.
Menghadapi keniscayaan alam tersebut, Daryono mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang dari rasa panik menjadi langkah mitigasi yang nyata. Ia mengingatkan prinsip utama keselamatan bahwa gempa bumi pada dasarnya tidak pernah melukai manusia.
"Ingat, yang melakukan itu adalah bangunan roboh karena strukturnya lemah," tegas Daryono
Oleh sebab itu, Daryono menyarankan masyarakat untuk memastikan setiap bangunan tembok yang didirikan dilengkapi dengan konstruksi pembesian beton yang kuat.
Bagi warga yang belum memiliki biaya cukup untuk struktur bertulang, ia mengimbau penggunaan rumah ringan berstruktur kayu dan bambu yang didesain secara menarik.
Mengakhiri keterangannya, Daryono menekankan pentingnya penguatan literasi dan simulasi kesiapsiagaan di tengah masyarakat ketimbang meratapi ramalan yang tidak pasti.
Dengan pemahaman wilayah rawan, struktur bangunan yang kokoh, serta latihan evakuasi berkala, masyarakat Indonesia dapat hidup selaras dan aman di atas tanah Nusantara.
Pakar gempa bumi dan tsunami dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Dr Daryono dalam program DARI MEJA REDAKSI di Nusantara TV