AS Akui Tempatkan Senjata di Luar Angkasa, Siap Hadapi Ancaman China dan Rusia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Sep 2026, 11:13
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Kru pesawat ruang angkasa Cina Shenzhou-19 berhasil melakukan serangkaian eksperimen fotosintesis buatan di stasiun ruang angkasa Tiangong Kru pesawat ruang angkasa Cina Shenzhou-19 berhasil melakukan serangkaian eksperimen fotosintesis buatan di stasiun ruang angkasa Tiangong ((Antara))

Ntvnews.id, Washington D.C - Angkatan Antariksa Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya secara resmi mengakui bahwa pihaknya telah menempatkan sistem persenjataan di orbit Bumi.

Dilansir dari AFP, Rabu, 16 September 2026, Pengakuan tersebut disampaikan pada Senin, 14 Septeber 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran Washington terhadap potensi ancaman di luar angkasa yang berasal dari dua rival utamanya, China dan Rusia.

Dalam penilaiannya, Angkatan Antariksa AS menyebut China tengah gencar mengembangkan sekaligus mengoperasikan berbagai kemampuan antariksa dan kontra-antariksa. Pengembangan tersebut dinilai menjadi bagian dari strategi Beijing untuk memperkuat dan memodernisasi kekuatan militernya.

Sementara itu, Rusia disebut memandang luar angkasa sebagai salah satu arena peperangan. Moskwa juga meyakini bahwa penguasaan terhadap domain antariksa akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan jalannya konflik di masa mendatang.

Menghadapi perkembangan tersebut, juru bicara Angkatan Antariksa AS mengatakan negaranya kini telah menempatkan kemampuan militer di orbit dengan tujuan melindungi aset-aset Amerika Serikat. Namun, militer AS tidak menjelaskan secara spesifik jenis senjata yang telah ditempatkan di luar angkasa.

"AS memiliki senjata kendali antariksa di orbit yang mampu memproteksi Pasukan Gabungan dari tindakan musuh yang bermusuhan," ujar juru bicara Angkatan Antariksa AS.

Dalam pernyataan resminya, Angkatan Antariksa AS juga menjabarkan fungsi dari sistem persenjataan tersebut. Kemampuan kendali antariksa disebut mencakup berbagai misi yang diperlukan untuk memperebutkan sekaligus mempertahankan kendali atas domain luar angkasa.

"Kendali antariksa mencakup area misi yang diperlukan untuk memperebutkan dan mengendalikan domain luar angkasa, menggunakan sarana kinetik dan non-kinetik untuk memengaruhi kemampuan lawan," tulis pernyataan tersebut.

Menurut pernyataan itu, kemampuan kendali antariksa yang dimiliki AS dapat dimanfaatkan dalam operasi yang bersifat defensif maupun ofensif. Artinya, sistem tersebut tidak hanya dirancang untuk melindungi aset Amerika, tetapi juga dapat digunakan untuk memengaruhi kemampuan pihak yang dianggap sebagai lawan.

Baca Juga: Purbaya: Belum Ada Pembahasan Pemangkasan Anggaran Pertahanan

Militerisasi luar angkasa sebenarnya bukan fenomena baru. Persaingan untuk mengembangkan kemampuan militer di luar atmosfer telah berlangsung sejak era awal perlombaan antariksa antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Persaingan tersebut semakin berkembang setelah Uni Soviet berhasil meluncurkan satelit Sputnik ke orbit pada 1957. Sejak saat itu, Washington dan Moskwa mulai mengeksplorasi berbagai teknologi yang dapat digunakan untuk melindungi maupun menghancurkan satelit milik pihak lawan.

Pada masa awal perlombaan antariksa, salah satu ancaman terbesar yang menjadi perhatian negara-negara adidaya adalah kemungkinan ditempatkannya senjata nuklir di orbit Bumi. Kekhawatiran tersebut kemudian mendorong lahirnya Perjanjian Luar Angkasa pada 1967.

Perjanjian tersebut melarang penempatan senjata pemusnah massal di orbit Bumi. Meski demikian, aturan itu tidak serta-merta menghentikan pengembangan berbagai kemampuan militer yang dapat digunakan dalam konflik antariksa.

AS, Rusia, China, hingga India terus mengembangkan teknologi yang berpotensi digunakan dalam pertempuran di luar angkasa. Salah satu kemampuan yang menjadi perhatian utama adalah teknologi untuk mengganggu atau menghancurkan satelit milik negara lain.

Satelit memiliki posisi strategis dalam operasi militer modern. Infrastruktur tersebut digunakan untuk mendukung komunikasi, pengawasan, pengumpulan informasi, hingga sistem navigasi.

Karena itu, kemampuan untuk mempertahankan satelit sendiri sekaligus melumpuhkan satelit lawan dipandang semakin penting dalam persaingan militer global. Pengakuan terbaru Washington mengenai keberadaan senjata kendali antariksa di orbit pun menandai babak baru dalam persaingan kekuatan militer di luar angkasa.

x|close