Korea Utara Lakukan Gebrakan di Kala Keteganan Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Sep 2026, 11:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meninjau latihan militer yang dilakukan oleh tentara Korea Utara 10 Oktober 2022. Latihan tersebut dilaporkan mencakup peluncuran rudal balistik untuk menguji efektivitas kemampuan nuklir negara itu. Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meninjau latihan militer yang dilakukan oleh tentara Korea Utara 10 Oktober 2022. Latihan tersebut dilaporkan mencakup peluncuran rudal balistik untuk menguji efektivitas kemampuan nuklir negara itu. (Antara)

Ntvnews.id, Pyongyang - Korea Utara kembali melakukan peluncuran proyektil ke arah Laut Timur. Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyebut terdapat dua proyektil yang ditembakkan dari wilayah Korea Utara pada Minggu, 20 September 2026, salah satunya dipastikan merupakan rudal balistik.

Dilansir dari AFP, Senin, 21 September 2026, Peluncuran tersebut berlangsung beberapa hari setelah Pyongyang kembali menegaskan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir. Korea Utara juga menolak resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyerukan penghentian aktivitas nuklir negara tersebut.

Kantor Kepresidenan Korea Selatan menyatakan Dewan Keamanan Nasional menggelar rapat darurat setelah peluncuran pertama. Pertemuan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi dampak peluncuran terhadap keamanan nasional.

Pemerintah Korea Selatan mendesak Pyongyang menghentikan aktivitas peluncuran rudal balistik. Seoul menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB.

Militer Korea Selatan menyebut peluncuran pertama berlangsung sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Rudal balistik tersebut ditembakkan dari sekitar Kota Wonsan dan menempuh jarak sekitar 450 kilometer sebelum jatuh ke Laut Timur, yang juga dikenal sebagai Laut Jepang.

Sementara itu, rincian mengenai proyektil kedua belum diketahui. Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengonfirmasi adanya peluncuran kedua tak lama setelah pukul 18.00 waktu setempat.

"Militer kami mendeteksi sebuah rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Wonsan, Korea Utara, menuju Laut Timur," kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan setelah peluncuran pertama, dikutip AFP.

"Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang melakukan analisis terperinci untuk menentukan spesifikasi pastinya," lanjutnya.

Baca Juga: Jurnalis Terluka Kena Serangan Rudal Israel di Lebanon Selatan

Kantor Perdana Menteri Jepang juga menyampaikan melalui media sosial X bahwa kedua proyektil yang diluncurkan Korea Utara diduga merupakan rudal balistik.

Pemerintah Jepang kemudian menyampaikan protes keras kepada Pyongyang. Tokyo mengecam peluncuran tersebut dan menyebutnya sebagai ancaman terhadap perdamaian serta keamanan kawasan.

Peluncuran terbaru ini terjadi delapan hari setelah Korea Utara menembakkan sejumlah rudal balistik jarak pendek menuju Laut Timur. Pyongyang saat itu menyebut peluncuran tersebut sebagai bagian dari latihan tembak gabungan yang melibatkan artileri jarak jauh dan rudal.

Media pemerintah Korea Utara melaporkan seluruh senjata yang digunakan dalam latihan tersebut berhasil mengenai sasaran dengan tingkat akurasi 100 persen.

Di tengah ketegangan tersebut, Korea Utara juga menuding negara-negara yang dianggap sebagai musuh berusaha menghentikan program nuklirnya melalui Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang berlangsung pekan ini.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan resolusi IAEA tidak memengaruhi posisi Pyongyang sebagai negara pemilik senjata nuklir.

Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, sebelumnya menyatakan status negaranya sebagai negara bersenjata nuklir bersifat mutlak. Dia juga menyebut pihak yang berharap Korea Utara melakukan denuklirisasi sebagai 'orang bodoh.

Pada Agustus lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Korea Utara memiliki 57 senjata nuklir yang 'sangat kuat'.

Sementara itu, perkiraan Korea Selatan menunjukkan Korea Utara memiliki sekitar 80 hingga 120 senjata nuklir.

x|close