Mendagri Segera Panggil Gubernur NTT Terkait Laporan Ratusan Pengungsi Meninggal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Sep 2026, 16:27
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan akan segera menindaklanjuti dan mengonfirmasi laporan mengenai puluhan penyintas gempa bumi yang meninggal dunia di tempat pengungsian kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal tersebut ditegaskan Mendagri saat ditemui setelah mengikuti rapat tingkat menteri di Kantor Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta, Rabu (30/9).
 
"Saya akan cross-check dulu kepada pemerintah daerah, di mana saja dan penyebabnya apa. Daripada saya ngarang-ngarang jawabannya, ini sebagai masukan. Saya akan tanya Gubernurnya," kata Tito menanggapi peristiwa duka tersebut.
 
Meski koordinasi penanganan darurat di lapangan secara struktural berada di bawah kendali Badan Nasional Penanggulangan Bencana serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri tetap akan ikut memantau peran aktif pemerintah daerah dalam merawat para pengungsi.
 

Di sisi lain, pemerintah pusat disebut telah mengalokasikan dana belanja tidak terduga tambahan senilai Rp20 miliar untuk masing-masing dari tujuh kabupaten/kota yang terdampak, serta Rp40 miliar khusus bagi Pemerintah Provinsi NTT. Berkenaan dengan hal itu, mantan Kapolri tersebut mengingatkan para kepala daerah agar sigap mengoptimalkan pemanfaatan anggaran tersebut demi mencukupi kebutuhan fasilitas kesehatan dan pelayanan dasar di lokasi pengungsian.
 
"Kalau ada hal karena kurang treatment atau yang kurang layak, ya ini jadi bagian evaluasi. Saya pasti akan menyampaikan kepada Pemda-nya untuk memanfaatkan anggaran yang ada," tegas Tito.

Berdasarkan data terbaru hingga akhir September 2026, sebanyak 108 penyintas gempa bumi dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan meninggal dunia di area pengungsian maupun posko.
 
Akumulasi korban jiwa tersebut merupakan dampak tidak langsung pascagempa termasuk yang meninggal dunia setelah sempat memperoleh penanganan medis dengan kelompok lanjut usia dan anak-anak mendominasi jumlah korban. Kabupaten Manggarai mencatatkan angka kematian tertinggi sebanyak 44 jiwa, disusul oleh Manggarai Timur dengan 33 jiwa, serta Nagekeo sebanyak 20 jiwa.
 
 
Berdasarkan keterangan pemerintah daerah setempat, para korban sebagian besar mengidap penyakit saluran pernapasan seperti pneumonia serta diare akibat kondisi cuaca ekstrem, lingkungan pengungsian yang berdebu, serta sanitasi yang kurang memadai.
 
Bantuan Terus Diberikan
Golf for Humanity 2 dorong perlindungan dan pemenuhan hak anak di NTT dan Maluku. Golf for Humanity 2 dorong perlindungan dan pemenuhan hak anak di NTT dan Maluku.

Bantuan kebutuhan sanitasi dan higienitas disalurkan kepada warga terdampak gempa bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas dasar di sejumlah lokasi pengungsian.

Bantuan berupa popok bayi, pembalut wanita, popok dewasa, masker, dan tisu basah tersebut disalurkan PT Uni-Charm Indonesia Tbk (Unicharm) melalui dua titik, yakni RSUD Manggarai serta Polres Manggarai untuk diteruskan kepada warga terdampak di Kecamatan Reok.

Kebutuhan produk sanitasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan di tengah kondisi pengungsian dengan keterbatasan akses air bersih dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, perempuan, dan lanjut usia.

Perwakilan RSUD Manggarai, Zeni, mengatakan kebutuhan produk sanitasi harian masih menjadi kebutuhan mendesak bagi warga yang berada di lokasi pengungsian.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian yang diberikan. Kebutuhan produk sanitasi harian seperti popok dan pembalut sangat mendesak bagi para pengungsi di lapangan guna menjaga kesehatan dan kenyamanan warga di posko penampungan,” katanya dalam keterangan resmi Unicharm pada Rabu.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 31 Agustus 2026, gempa bumi Flores dengan magnitudo 7,7 diikuti lebih dari 10 ribu gempa susulan, dengan 35 kejadian di antaranya bermagnitudo di atas 5,0.

Sementara itu, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 14 September 2026 mencatat lebih dari 140 orang meninggal dunia, lebih dari 100 ribu rumah mengalami kerusakan, serta lebih dari 2.000 fasilitas kesehatan dan sekolah terdampak akibat bencana tersebut.

 
 
 
(Sumber: Antara)
 
x|close