Kebakaran di Jakarta Tembus 1.467 Kasus Sepanjang 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Okt 2026, 09:55
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi Kebakaran Ilustrasi Kebakaran (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Kasus kebakaran di Jakarta mencapai 1.467 kejadian selama periode 1 Januari hingga 30 September 2026. Berdasarkan data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta, korsleting atau gangguan listrik menjadi dugaan penyebab paling dominan, dengan jumlah mencapai lebih dari separuh total kejadian.

"Rekapitulasi Kejadian Kebakaran Provinsi DKI Jakarta 1 Januari sampai 30 September 2026," kata Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, Bayu Meghantara dalam keterangannya, 13 Oktober 2026.

Data rekapitulasi kebakaran Jakarta menunjukkan, faktor listrik diduga menjadi penyebab 741 kejadian atau 50,51 persen dari keseluruhan kasus. Selain itu, kebiasaan membakar sampah juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kebakaran di Ibu Kota.

Berdasarkan persebaran wilayah, Jakarta Barat menempati posisi pertama dengan 451 kejadian kebakaran atau 30,74 persen dari total kasus sepanjang Januari hingga September 2026.

Jakarta Timur berada di urutan kedua dengan 360 kejadian atau 24,54 persen. Selanjutnya, Jakarta Selatan mencatat 294 kejadian atau 20,04 persen, disusul Jakarta Utara sebanyak 209 kejadian atau 14,25 persen.

Sementara itu, Jakarta Pusat menjadi wilayah dengan jumlah kebakaran paling sedikit, yakni 153 kejadian atau 10,43 persen dari keseluruhan kasus.

Dari total kejadian tersebut, sebanyak 176 kebakaran berhasil ditangani oleh masyarakat sebelum atau tanpa sepenuhnya mengandalkan penanganan petugas. Jakarta Barat menjadi wilayah dengan jumlah penanganan oleh masyarakat terbanyak, yakni 85 kejadian atau 48,30 persen dari total kasus yang ditangani masyarakat.

Adapun Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat masing-masing mencatat 31 kejadian, disusul Jakarta Timur sebanyak 15 kejadian dan Jakarta Utara sebanyak 14 kejadian.

Jika dilihat berdasarkan waktu kejadian, jumlah kebakaran di Jakarta menunjukkan peningkatan pada paruh kedua 2026, terutama mulai Juli hingga September.

Pada Januari, tercatat 129 kejadian kebakaran. Angka tersebut sempat turun menjadi 93 kejadian pada Februari, kemudian meningkat menjadi 126 kejadian pada Maret dan 132 kejadian pada April.

Memasuki Mei, jumlah kebakaran mencapai 138 kejadian dan kembali naik menjadi 141 kejadian pada Juni. Lonjakan lebih besar terjadi pada Juli dengan 217 kejadian.

Puncak sementara terjadi pada Agustus yang mencatat 250 kejadian kebakaran atau 17,04 persen dari total kasus selama sembilan bulan pertama 2026.

Pada September, jumlah kejadian sedikit menurun menjadi 241 kasus. Meski demikian, angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah kebakaran pada awal tahun.

Berdasarkan objek yang terbakar, bangunan perumahan menjadi kategori dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 412 kasus atau 28,08 persen.

Berikutnya, kebakaran bangunan umum dan perdagangan mencapai 265 kejadian atau 18,06 persen. Sementara itu, kebakaran sampah tercatat sebanyak 240 kejadian atau 16,36 persen.

Kebakaran pada instalasi listrik luar gedung juga cukup tinggi, yakni 214 kejadian atau 14,59 persen. Adapun kebakaran tumbuhan mencapai 113 kejadian, kendaraan sebanyak 84 kejadian, dan kategori lainnya sebanyak 65 kejadian.

Selain itu, tercatat 46 kejadian kebakaran lapak dan 28 kejadian pada bangunan industri.

Data Dinas Gulkarmat DKI Jakarta memperlihatkan bahwa faktor listrik menjadi dugaan penyebab utama kebakaran sepanjang Januari hingga September 2026. Jumlahnya mencapai 741 kejadian atau 50,51 persen dari keseluruhan laporan.

Pembakaran sampah menempati posisi berikutnya dengan 231 kejadian atau 15,75 persen. Faktor lainnya tercatat sebanyak 126 kejadian atau 8,59 persen, sedangkan dugaan penyebab terkait gas mencapai 116 kejadian atau 7,91 persen.

Selain itu, kelalaian manusia diduga berkontribusi terhadap 102 kejadian kebakaran atau 6,95 persen. Faktor rokok tercatat sebanyak 81 kejadian atau 5,52 persen.

Sementara itu, penyalaan sendiri mencapai 56 kejadian atau 3,82 persen, sedangkan penyalaan kembali tercatat sebanyak 14 kejadian atau 0,95 persen.

Tingginya angka kebakaran yang diduga dipicu faktor listrik menjadi pengingat pentingnya memastikan instalasi listrik dalam kondisi aman. Masyarakat juga perlu menghindari pembakaran sampah sembarangan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi sumber api di lingkungan rumah maupun tempat usaha.

x|close