Serangan Rusia Ganggu Listrik 600.000 Warga Ukraina

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Okt 2026, 06:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bangunan hunian rusak akibat serangan Rusia di Kiev, Ukraina, (6/7/2026). Ilustrasi - Bangunan hunian rusak akibat serangan Rusia di Kiev, Ukraina, (6/7/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Kyiv - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut serangan rudal dan drone Rusia pada malam hari menyebabkan sedikitnya 600.000 warga Ukraina kehilangan pasokan listrik. Serangan tersebut menyasar sejumlah infrastruktur energi penting di tengah pengumuman gencatan senjata di sektor energi antara kedua negara.

“Serangan tersebut menghantam infrastruktur energi penting di Kyiv, wilayah sekitarnya, serta kota Kharkiv di timur laut Ukraina,” kata Zelensky, dikutip dari BBC, Kamis, 15 Oktober 2026.

Serangan itu berlangsung meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu sebelumnya mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati penghentian serangan terhadap sektor energi.

Dinas Situasi Darurat Negara Ukraina (DSNS) melaporkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan 21 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan di Kyiv.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan operasi militer berskala besar tersebut menyasar fasilitas komunikasi dan energi di wilayah Kyiv serta Kharkiv yang dinilai digunakan oleh militer Ukraina.

Angkatan Udara Ukraina melaporkan Rusia mengerahkan 39 rudal balistik dan rudal jelajah serta 128 drone dalam serangan tersebut. Dari total persenjataan yang diluncurkan, empat rudal dan 115 drone diklaim berhasil dicegat dan ditembak jatuh.

Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Sasar Pusat Data, Internet Rusia Terganggu

Di pihak lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pasukannya berhasil menghancurkan 902 drone Ukraina sepanjang malam di sejumlah wilayah Rusia, termasuk Moskow dan Krimea. Krimea merupakan semenanjung di selatan Ukraina yang dianeksasi Rusia pada 2014.

Sebelumnya, Trump mengumumkan pemberlakuan gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina melalui media sosial pada Minggu. Ia menegaskan kedua negara telah menyepakati penghentian serangan terhadap fasilitas energi masing-masing.

"Mulai saat ini, BERLAKU GENCATAN SENJATA ENERGI dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua pihak telah menyetujuinya. Jangan melanggarnya!" tulis Trump.

Zelensky sebelumnya berulang kali menyatakan kesiapan Ukraina untuk menghentikan serangan terhadap kilang minyak dan fasilitas energi Rusia apabila Moskow mengambil langkah serupa.

Namun, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berpandangan Ukraina tidak pantas memperoleh "jeda" melalui kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Lavrov juga memperingatkan penghentian pertempuran sementara berpotensi dimanfaatkan negara-negara Eropa untuk "memasok Ukraina dengan senjata baru" sehingga Kyiv dapat melanjutkan perang melawan Rusia.

Invasi skala penuh Rusia ke Ukraina dimulai pada 2022 atas perintah Presiden Vladimir Putin. Hingga kini, Moskow menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina.

TERKINI

VIDEO: Detik-detik Mengerikan Ledakan Pasar Cimanggis

Metro Kamis, 15 Okt 2026 | 07:10 WIB

AS Mulai Eksplorasi Besar-besaran Minyak dan Gas di Greenland

Luar Negeri Kamis, 15 Okt 2026 | 07:10 WIB

2 Pemimpin Partai Kecoak India Ditahan usai Terobos Barikade Demo

Luar Negeri Kamis, 15 Okt 2026 | 07:05 WIB

Iran Siaga Hadapi Berbagai Skenario Perang

Luar Negeri Kamis, 15 Okt 2026 | 07:03 WIB

Serangan Rusia Ganggu Listrik 600.000 Warga Ukraina

Luar Negeri Kamis, 15 Okt 2026 | 06:15 WIB

VIDEO: Kebakaran Kantor ATR/BPN Disertai Suara Ledakan

Metro Kamis, 15 Okt 2026 | 05:28 WIB

Fakta Mengerikan Ledakan Pasar Cimanggis, 2 Orang tewas

Metro Kamis, 15 Okt 2026 | 05:21 WIB
Load More
x|close