Gelombang Protes Iran Tewaskan 648 Demonstran serta 109 Aparat Keamanan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jan 2026, 10:16
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi - Aksi protes di Iran. Anadolu/as. Ilustrasi - Aksi protes di Iran. Anadolu/as. (Antara)

Ntvnews.id, Iran - Gelombang unjuk rasa yang mengguncang Iran sejak akhir Desember 2025 terus menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Laporan terbaru kelompok pemantau Hak Asasi Manusia yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHRNGO), mencatat sedikitnya 648 demonstran tewas sepanjang periode 28 Desember 2025 hingga 12 Januari 2026.

Dari jumlah tersebut, sembilan korban diketahui masih berusia di bawah 18 tahun, menandakan bahwa kekerasan turut menyasar kelompok rentan dalam aksi protes tersebut.

Tak hanya korban meninggal, ribuan warga sipil dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrokan antara massa demonstran dan aparat keamanan. Aksi unjuk rasa terjadi di berbagai kota besar Iran dan kerap berujung represif, memperparah situasi kemanusiaan di tengah krisis ekonomi yang membelit negara tersebut.

Sementara itu, data berbeda disampaikan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang bermarkas di Amerika Serikat. Dalam laporan yang dikutip CNN pada Senin (12/1/2026), lembaga tersebut menyebut jumlah korban tewas mencapai 544 orang.

Baca Juga: Trump Pertimbangkan Opsi Lakukan Serangan ke Iran

Perbedaan angka ini menunjukkan keterbatasan akses informasi di lapangan serta ketatnya kontrol pemerintah Iran terhadap arus pemberitaan selama gelombang protes berlangsung.

Di sisi lain, media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa 109 personel keamanan turut tewas dalam rangkaian aksi protes yang meluas ke berbagai wilayah. Angka ini menempatkan aparat sebagai kelompok korban kedua terbesar setelah demonstran sipil, mencerminkan eskalasi konflik yang semakin keras antara negara dan warganya.

Kekerasan juga dilaporkan menyasar sektor kemanusiaan. Palang Merah Iran mengonfirmasi bahwa seorang staf mereka tewas setelah sebuah gedung bantuan diserang di Gorgan, ibu kota Provinsi Golestan. Insiden tersebut memicu kekhawatiran internasional terkait keselamatan pekerja kemanusiaan di tengah situasi konflik internal yang memburuk.

Aksi protes ini disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Iran. Pemicu utamanya adalah lonjakan harga kebutuhan pokok dan inflasi yang kian tak terkendali, membuat tekanan hidup masyarakat semakin berat. Kondisi tersebut mendorong kemarahan publik yang kemudian meledak menjadi demonstrasi massal.

Ahmadian, seorang warga Iran yang diwawancarai Al Jazeera, menilai persoalan ekonomi sebagai akar utama keresahan publik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa mayoritas masyarakat tidak mendukung penggunaan kekerasan dalam menyampaikan aspirasi.

Baca Juga: Iran Klaim Demonstran Terima Instruksi Asing untuk Tembaki Polisi

“Mayoritas warga Iran tidak senang dengan kondisi ekonomi di Iran, tetapi mayoritas dari mereka juga tidak suka dengan kekerasan,” kata Ahmadian.

Mengutip laporan BBC, rangkaian demonstrasi ini bermula dari mogok massal para pedagang di pasar besar Teheran pada 28 Desember 2025. Aksi tersebut dipicu oleh anjloknya nilai mata uang Iran, yang semakin memperdalam krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Tak lama berselang, gelombang protes merembet ke berbagai kampus dan universitas. Pemerintah merespons dengan menutup aktivitas perkuliahan, yang secara resmi diklaim akibat cuaca ekstrem. Namun, langkah tersebut gagal meredam situasi. Unjuk rasa justru terus meluas ke berbagai kota, baik besar maupun kecil, terutama di wilayah barat Iran.

Dengan total korban tewas yang kini mencapai 757 orang, terdiri dari 648 demonstran dan 109 aparat keamanan, krisis ini menandai salah satu episode paling berdarah dalam sejarah protes modern Iran. Situasi tersebut memperkuat sorotan internasional terhadap penanganan demonstrasi oleh pemerintah serta mendesak adanya perlindungan lebih besar bagi warga sipil.

x|close