Iran Tuduh AS Cari Alasan Lakukan Intervensi Militer

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Jan 2026, 12:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Iran menilai Amerika Serikat (AS) tengah berupaya membangun pembenaran untuk melakukan intervensi militer. Tudingan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman akan mengambil “tindakan keras” menyusul penindakan brutal terhadap gelombang protes besar-besaran.

“Fantasi dan kebijakan AS terhadap Iran berakar pada perubahan rezim, dengan sanksi, ancaman, kerusuhan yang direkayasa, dan kekacauan sebagai modus operandi untuk menciptakan dalih bagi intervensi militer,” demikian pernyataan perwakilan Iran di PBB melalui unggahan di platform X, seperti dikutip AFP, Rabu, 14 Januari 2026.

Iran juga menegaskan bahwa apa yang disebut sebagai “strategi” Washington tersebut diyakini akan “gagal lagi”.

Sebelumnya, Teheran juga menuding AS dan Israel telah mengerahkan anggota kelompok teroris ISIS (Daesh) ke wilayah Iran untuk melancarkan serangan terhadap warga sipil serta aparat keamanan. Tuduhan itu disampaikan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi.

Baca Juga: AS Imbau Warganya Segera Angkat Kaki dari Iran

Mengutip Anadolu, Rabu, 13 Januari 2026, Mousavi menyatakan pengerahan tersebut dilakukan setelah kegagalan Washington dan Tel Aviv dalam apa yang ia sebut sebagai “perang 12 hari” melawan Iran baru-baru ini.

Ia menuding anggota ISIS, yang disebutnya sebagai “tentara bayaran”, dikirim ke Iran untuk melakukan aksi kekerasan dengan sasaran masyarakat sipil dan personel keamanan.

Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)

“Iran tidak akan mentolerir pelanggaran kedaulatan atau integritas wilayahnya,” tegas Mousavi.

Hingga kini, baik pemerintah Amerika Serikat maupun Israel belum memberikan respons resmi atas tuduhan tersebut. Sementara itu, Iran masih dilanda gelombang demonstrasi anti-pemerintah sejak bulan lalu, seiring memburuknya kondisi ekonomi dan melemahnya nilai tukar mata uang nasional, rial.

Nilai rial dilaporkan merosot hingga 145.000 per dolar AS, yang berdampak langsung pada lonjakan harga kebutuhan pokok. Sejumlah pejabat Iran sebelumnya juga menuding AS dan Israel berada di balik dukungan terhadap pihak-pihak yang mereka sebut sebagai “perusuh bersenjata” di dalam negeri.

x|close