Tangerang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Jan 2026, 20:00
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Permukiman warga Perumahan Taman Cikande, Desa Cikande, Jayanti, Kabupaten Tangerang, Banten. Permukiman warga Perumahan Taman Cikande, Desa Cikande, Jayanti, Kabupaten Tangerang, Banten. (Antara)

Ntvnews.id, Tangerang - Pemerintah Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, resmi menetapkan status tanggap darurat bencana banjir menyusul meluasnya genangan yang kini berdampak pada 24 kecamatan. Penetapan status tersebut dilakukan setelah evaluasi data dan cakupan wilayah terdampak banjir sejak Minggu, 11 Januari 2026..

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Ahmad Taufik mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan potensi curah hujan yang masih tinggi serta dampaknya terhadap perluasan banjir di wilayah tersebut.

“Iya, kita akan mengeluarkan status tanggap darurat. Ini dilakukan atas dasar potensi tingginya curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan luasan bencana banjir, jadi pemerintah harus mengantisipasi bagaimana terkait dengan hasil perkiraan cuaca dari BMKG,” ujarnya di Tangerang, Rabu, 14 Januari 2026.

Menurut Ahmad Taufik, kebijakan tanggap darurat ini bertujuan mempercepat penanganan bencana, pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, serta memperkuat koordinasi lintas sektor agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin meluas. Selain itu, status ini juga memungkinkan pemerintah daerah menyiapkan sarana dan prasarana pendukung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak banjir.

Baca Juga: KLH Siapkan Gugatan Triliunan Rupiah terhadap 6 Perusahaan Terkait Banjir Sumatera

“Nah, kemudian sejak tanggal 11 Januari 2026 sampai sekarang ini kan ternyata mulai terjadi banjir. Sudah terbukti yang biasanya wilayah itu hanya 20 centimeter ketinggian airnya, sekarang sudah ada perkembangan naik dan meluas,” katanya.

Selama masa tanggap darurat, Pemkab Tangerang akan terus memantau kondisi cuaca serta potensi bencana susulan, mengingat intensitas hujan di sejumlah wilayah masih relatif tinggi. Dari pendataan sementara, sedikitnya sekitar 10 ribu kepala keluarga atau sekitar 45 hingga 50 ribu jiwa terdampak banjir di 24 kecamatan.

“Ya, sekitar kurang lebih 50 ribuan jiwa. Kurang lebihnya 50 ribuan penduduk,” ucap Ahmad Taufik.

Meski demikian, ia menyebutkan bahwa genangan banjir di sejumlah titik mulai berangsur surut. Namun, permukiman warga yang berada di bantaran sungai masih terendam akibat limpasan air sungai.

Baca Juga: Cek Fakta: MBG Distop dan Diallihkan ke Korban Banjir

“Yang surut juga banyak juga, berangsur-angsur surut, tapi juga ada yang karena limpahan air Sungai Cidurian gitu, sehingga terdampak ke masyarakat,” ujarnya.

Ketinggian air banjir di wilayah terdampak bervariasi antara 60 hingga 80 sentimeter, dengan titik terparah mencapai ketinggian sekitar 2 meter. Untuk penanganan lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah instansi terkait.

Sebagai langkah awal, pemerintah daerah berencana membangun fasilitas pompa air, melakukan normalisasi saluran, serta membuka pintu air di wilayah rawan banjir.

“Khususnya di wilayah Kosambi dan wilayah-wilayah yang lain relatif hampir mirip. Contoh wilayah Kosambi kemungkinan akan ada dibangun saluran air atau juga normalisasi ditambah rumah-rumah mesin pompa,” kata dia.

(Sumber: Antara)

x|close