Anak Muda Dinilai Jadi Kunci Filantropi Berkelanjutan dan Pemberdayaan Ekonomi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Jan 2026, 18:04
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa (YouTube)

Ntvnews.id, Jakarta - Peran anak muda dalam mendorong filantropi yang berdampak dan pemberdayaan ekonomi berkelanjutan menjadi sorotan dalam diskusi Local Leaders: Young Empowerment yang digelar Dompet Dhuafa. Diskusi ini menghadirkan Sandiaga Uno, Owner Batik Trusmi Sally Giovanny, Founder dan CEO Agradaya Andhika Mahardika, serta dimoderatori Atiatul Muqtadir.

Atiatul Muqtadir menyoroti munculnya kelompok “rentan miskin” yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, kelompok ini sangat mudah terdorong ke jurang kemiskinan ketika terjadi guncangan ekonomi.

“Sehari dua hari tidak bekerja saja, mereka bisa langsung masuk kelompok miskin. Ini yang disebut zona abu-abu kemiskinan,” ujarnya dalam acara Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa di Nusantara Ballroom, NT Tower, Kamis, 15 Januari 2026.

Ia juga menyinggung isu kesehatan mental anak muda yang kerap berakar dari tekanan ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan layak.

Baca Juga: Hadiri Humanitarian Summit Dompet Dhuafa, Anis Matta Tekankan Filantropi sebagai Healing Psikologis

Sementara itu, Sandiaga Uno menilai, kondisi tersebut menuntut pendekatan filantropi yang lebih strategis. Ia menegaskan bahwa filantropi tidak cukup hanya bersifat bantuan sesaat, melainkan harus mendorong masyarakat untuk naik kelas.

“Peran anak muda hari ini bukan hanya membantu bertahan hidup, tapi membantu masyarakat untuk naik kelas. Filantropi harus mampu mengubah mustahik menjadi muzaki,” kata Sandiaga.

Ia menambahkan, kewirausahaan dan filantropi sejatinya tidak bertentangan. “Entrepreneurship bukan profesi, tapi mindset. Orientasinya inovasi, berani mengambil risiko, dan berkolaborasi untuk memberi manfaat,” ujarnya.

Pandangan tersebut diamini Sally Giovanny. Ia berbagi pengalaman membangun Batik Trusmi dari nol dengan semangat pemberdayaan. Menurutnya, filantropi justru menjadi fondasi pertumbuhan usaha.

Baca Juga: Indonesia Humanitarian Summit 2026 Tegaskan Filantropi sebagai Pilar Kepercayaan Publik

“Bisnis bukan hanya soal untung, tapi bagaimana bisa memberi manfaat dan tumbuh bersama. Filantropi tidak harus menunggu sukses,” tutur Sally.

Sementara itu, Andhika Mahardika menekankan pentingnya peran anak muda dalam menghidupkan kembali sektor pertanian melalui inovasi. Melalui Agradaya, ia mengembangkan teknologi pengolahan pascapanen untuk meningkatkan nilai jual hasil tani.

“Petani sering kali menjual hasilnya dalam kondisi mentah dengan harga rendah. Dengan teknologi, mereka bisa mendapatkan nilai tambah dan kesejahteraan yang lebih baik,” jelasnya.

Diskusi ini menegaskan bahwa kolaborasi antara filantropi dan kewirausahaan yang digerakkan anak muda menjadi kunci dalam menciptakan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.

x|close