AS Bersiap Serangan Baru, Warga Sipil Diminta Jauhi Pelabuhan di Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Mar 2026, 07:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi Selat Hormuz, Iran. /ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi Selat Hormuz, Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Militer Amerika Serikat disebut tengah mempersiapkan kemungkinan serangan baru di wilayah Iran. Menjelang potensi operasi militer tersebut, pihak militer AS mengimbau warga sipil di Iran untuk menjauhi seluruh fasilitas pelabuhan yang berada di sepanjang Selat Hormuz.

Imbauan itu disampaikan oleh United States Central Command (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan resmi.

"Para pekerja pelabuhan Iran, personel administrasi, dan awak kapal komersial harus menghindari kapal angkatan laut Iran dan peralatan militer," kata United States Central Command (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 12 Maret 2026.

Situasi di Selat Hormuz sendiri semakin tegang setelah jalur pelayaran strategis tersebut ditutup oleh Garda Revolusi Iran menyusul konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Pasukan angkatan laut Iran kini disiagakan di kawasan itu guna mencegah kapal-kapal asing melintas.

Baca Juga: Selat Hormuz Lumpuh, Harga BBM di Berbagai Negara Naik

Ketegangan meningkat setelah Garda Revolusi Iran meluncurkan serangan terhadap dua kapal yang berlayar di Selat Hormuz. Salah satu kapal yang menjadi sasaran adalah kapal pengangkut barang curah asal Thailand.

"Kapal Express Rome milik Israel, yang mengibarkan bendera Liberia, dan kapal kontainer Mayuree Naree, terkena proyektil Iran dan berhenti setelah mengabaikan peringatan dari pasukan angkatan laut IRGC," kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan yang dimuat oleh kantor berita ISNA Iran, dilansir AFP.

Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, Iran selatan, Selasa (30/4/2029). (ANTARA/Xinhua/Ahmad Halabisaz) <b>(Antara)</b> Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, Iran selatan, Selasa (30/4/2029). (ANTARA/Xinhua/Ahmad Halabisaz) (Antara)

Komandan angkatan laut Garda Revolusi, Alireza Tangsiri, juga menegaskan aturan baru bagi kapal yang hendak melintas di jalur strategis tersebut. Ia menulis melalui platform X bahwa "setiap kapal yang bermaksud untuk lewat harus mendapatkan izin dari Iran".

Sementara itu, pemerintah Thailand turut memberikan pernyataan setelah kapal berbendera negaranya menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz. Berdasarkan laporan yang dikutip Reuters, Kementerian Transportasi Thailand menyatakan bahwa 20 awak kapal berhasil selamat dari insiden tersebut. Namun, tiga awak kapal lainnya dilaporkan masih hilang.

Otoritas Thailand menjelaskan bahwa para awak kapal sempat meninggalkan kapal menggunakan sekoci sebelum akhirnya diselamatkan oleh angkatan laut Oman. Ledakan akibat serangan proyektil dari Garda Revolusi Iran dilaporkan terjadi di bagian buritan kapal dan memicu kebakaran di kompartemen mesin, area tempat tiga awak kapal yang hilang tersebut sedang bertugas.

x|close