Kata IDAI Soal Isu Susu Nestle Ditarik di Berbagai Negara Gegara Racun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Jan 2026, 08:03
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Kantor Nestle Kantor Nestle (Nestle)

Ntvnews.id, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merespons mencuatnya kabar penarikan produk susu formula Nestle di China dan 49 negara lain di seluruh dunia yang diduga terkontaminasi racun berbahaya. Organisasi profesi dokter anak itu memastikan, hingga kini belum ditemukan laporan kejadian serupa yang terjadi di Indonesia.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menyampaikan bahwa pihaknya terus mengikuti perkembangan informasi terkait isu tersebut. Namun, ia menekankan bahwa proses penyelidikan teknis dan pengujian keamanan produk merupakan kewenangan lembaga negara, yakni Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Untuk di Indonesia tentu saja kita terus memantau, tapi lembaga yang berwenang untuk menyelidiki ini adalah Badan POM,” ujar Piprim dalam keterangannya baru-baru ini yang dilansir pada Jumat, 16 Januari 2026.

Meski tidak memiliki otoritas langsung dalam pengujian produk, IDAI tetap mengambil langkah antisipatif secara internal. Piprim menyebut, IDAI akan memberikan pengingat dan edukasi kepada seluruh anggotanya agar tetap waspada terhadap potensi risiko yang mungkin muncul, khususnya terkait produk nutrisi bayi.

“Saya kira dari IDAI nanti kita juga tetap akan melakukan kewaspadaan kepada anggota kita,” kata Piprim.

Baca Juga: Kepala BPOM Pastikan Tidak Ada Kecolongan dalam Kasus Produk Nestlé

Terkait penarikan produk di China, Piprim menilai bahwa kondisi di setiap negara tidak bisa disamakan begitu saja. Perbedaan sistem regulasi, jalur distribusi, hingga proses produksi dapat memengaruhi karakteristik suatu kasus di masing-masing wilayah.

“Sejauh ini saya kira di Indonesia belum ada laporan serupa dengan di China. Jadi kejadiannya mungkin berbeda negara, mungkin berbeda juga kasusnya,” jelasnya.

 

Kendati demikian, IDAI tetap mengimbau para orang tua agar bersikap waspada tanpa perlu panik berlebihan. Piprim menekankan pentingnya menyaring informasi yang beredar di ruang publik dan menjadikannya sebagai bahan kewaspadaan, bukan kepanikan, dengan tetap merujuk pada keterangan resmi dari otoritas berwenang.

“Saya kira mudah-mudahan kita tetap waspada tapi juga jangan menimbulkan kepanikan, karena kejadian di China mungkin memang berbeda dengan yang di Indonesia,” pungkasnya.

Isu penarikan susu Nestle ini mencuat setelah otoritas Tiongkok meminta Nestle SA untuk segera menarik kembali produk susu formula bayi yang dipasarkan di daratan China. Produk tersebut diduga berpotensi terkontaminasi zat beracun. Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar Tiongkok menegaskan bahwa Nestle memiliki tanggung jawab penuh dalam melindungi hak dan keselamatan konsumen.

Baca Juga: BPOM Ungkap Alasan Penarikan Susu Formula Bayi Nestlé

Desakan tersebut muncul setelah perusahaan makanan dan minuman asal Swiss itu memperluas cakupan penarikan produknya. Sebelumnya, recall hanya dilakukan di sejumlah negara Eropa, namun kemudian meluas ke kawasan Asia dan Amerika menyusul kekhawatiran adanya kontaminasi cereulide.

Cereulide dikenal sebagai racun yang dapat memicu penyakit akibat makanan, dengan gejala utama berupa muntah. Penarikan sukarela ini mencakup sejumlah batch produk nutrisi bayi, termasuk merek BEBA dan Alfamino.

Dalam keterangan terpisah yang dimuat di situs resmi Nestle China, perusahaan menyatakan telah menarik secara sukarela 41 batch susu formula bayi impor dari Eropa yang beredar di pasar China daratan.

Nestle menyebut belum menerima laporan adanya gangguan kesehatan akibat produk tersebut. Meski demikian, perusahaan tetap mengimbau para orang tua agar tidak memberikan susu formula dari batch yang terdampak kepada anak-anak mereka.

Selain China daratan, penarikan produk juga dilakukan di Hong Kong. Pusat Keamanan Pangan Hong Kong dilaporkan telah memulai penyelidikan lanjutan guna memastikan keamanan produk dan melindungi konsumen.

x|close