Ntvnews.id, Jakarta - Menteri HAM Natalius Pigai mendukung segala bentuk insan media dan pers untuk berani mengungkap fakta yang ada di lapangan, dalam setiap karya jurnalistik yang dibuatnya.
Secara tegas, Pigai mengaku siap membela insan media apabila mendapatkan tindak kekerasan dan intimidasi selama ia menggali informasi di lapangan. Hal tersebut dilakukan oleh Pigai, lantaran ia menilai pers memiliki peran penting dalam menjaga keadilan dan mengawasi kekuasaan di Indonesia.
"Mari kita menjadi pembela kebenaran dan HAM. Boleh mengungkapkan apa saja. Jika ada pers yang dikritik atau dianiaya, saya akan pasang badan,” kata Pigai dalam acara Kick Off dan Launching Program Media, Pers, dan Pembangunan Peradaban Hak Asasi Manusia di Indonesia, 12 Maret 2026.
Dengan adanya media dan pers justru penting untuk menghidupkan demokrasi dan HAM yang ada di Tanah Air. Bahkan jika tanpa adanya pers, seluruh masyarakat akan kesulitan memperoleh informasi yang benar dan memperjuangkan keadilan.
"Media adalah jendela dunia dan cakrawala bangsa. Tanpa media, semuanya akan gelap gulita,” ujarnya.
Dalam hal ini, Pigai juga menyebut jika kebebasan pers memiliki kekuatan besar dalam mengontrol berbagai institusi kekuasaan, termasuk pemerintah.
"Pers itu kekuatannya di atas negara. Kita belajar teori Montesquieu, eksekutif, legislatif, yudikatif, dan sekarang korporatif. Keempatnya dikontrol oleh pers. Pers adalah real power, absolute power," imbuhnya.
Bahkan selama ini pers selalu menjadi instrumen yang menghadirkan keadilan ketika sistem hukum tidak berjalan secara ideal.
"Seringkali ketidakadilan dalam pelayanan oleh aparat penegak hukum menyebabkan pers harus bersuara. Karena ada pers, kemudian ada gerakan massa yang menginginkan munculnya keadilan," pungkasnya.
Menteri HAM Natalius Pigai (NTVNews)