Serangan Rusia Lumpuhkan Listrik dan Pemanas di Ukraiana di Tengah Suhu Ekstrem

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Jan 2026, 16:02
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Rusia Gempur Kembali Ukraina, Kini Rumah Sakit Anak Ancur di Kyiv Rusia Gempur Kembali Ukraina, Kini Rumah Sakit Anak Ancur di Kyiv (Tangkapan Layar)

Ntvnews.id, Kyiv - Serangan Rusia pada Selasa kemarin menyebabkan lumpuhnya pasokan pemanas, listrik, dan air di ribuan kawasan permukiman serta gedung parlemen Ukraina di ibu kota Kyiv, ketika suhu udara anjlok hingga minus 14 derajat Celsius.

Dilansir dari AFP, Kamis, 22 Januari 2026, gempuran itu terjadi saat kota tersebut masih berusaha memulihkan layanan vital yang rusak akibat serangan-serangan sebelumnya.

Hujan ratusan drone dan rudal yang diarahkan ke infrastruktur energi di sejumlah wilayah Ukraina dilaporkan menewaskan sedikitnya satu pria berusia 50 tahun di sekitar Kyiv.

Wartawan AFP melaporkan sirene peringatan serangan udara dan suara ledakan menggema di ibu kota saat sistem pertahanan udara Ukraina berupaya menangkis serangan tersebut.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengungkapkan bahwa lebih dari setengah juta penduduk telah meninggalkan ibu kota sepanjang Januari, menyusul serangan paling dahsyat Rusia terhadap infrastruktur energi kota sejak perang berkecamuk. Dari total sekitar 3,6 juta penduduk, sekitar 600.000 orang kini tercatat mengungsi.

Baca Juga: Ngeri, Salju Setinggi Apartemen Tutup Bangunan di Rusia

Sementara berlindung di stasiun metro pusat Kyiv, Marina Sergienko (51), seorang akuntan, menilai rangkaian serangan Rusia dilakukan dengan tujuan yang jelas.

“Untuk melemahkan rakyat, mendorong semuanya ke titik kritis sehingga tak ada kekuatan yang tersisa, untuk mematahkan perlawanan kami,” ujarnya kepada AFP dan dikutip Hurriyet Daily News, Rabu, 21 Januari 2026.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, mengecam Presiden Rusia Vladimir Putin dan menuduh Moskow terus menargetkan warga sipil. Ia menyebut infrastruktur energi di sedikitnya tujuh wilayah Ukraina menjadi sasaran, serta mendesak negara-negara sekutu agar memperkuat sistem pertahanan udara Ukraina.

Gangguan Layanan Publik

Arsip foto - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.  <b>(ANTARA)</b> Arsip foto - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. (ANTARA)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memberi sinyal kemungkinan membatalkan kehadirannya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, demi menangani dampak serangan tersebut. Meski demikian, ia masih membuka peluang untuk hadir apabila kesepakatan dukungan ekonomi dan keamanan pascaperang dengan Amerika Serikat siap ditandatangani.

Angkatan Udara Ukraina menyatakan Rusia meluncurkan sekitar 339 drone tempur jarak jauh dan 34 rudal dalam serangan semalam itu. Zelensky mengakui efektivitas pertahanan udara dalam menghadapi drone Shahed, buatan Iran yang digunakan Rusia, masih belum maksimal, seraya menyebut Ukraina baru menerima tambahan amunisi sehari sebelumnya.

Baca Juga: Rusia Perkuat Pertahanan Arktik Menyusul ketegangan Greenland

Serangan terbaru ini terjadi sekitar 10 hari setelah gempuran besar Rusia terhadap jaringan energi Kyiv pada 9 Januari, yang membuat separuh kota kehilangan pemanas dan banyak wilayah tanpa listrik selama beberapa hari di tengah suhu beku. Sebagian besar bangunan yang terdampak pada Selasa juga merupakan lokasi yang sebelumnya sudah diserang.

Sekolah-sekolah di Kyiv ditutup hingga Februari dan penerangan jalan dikurangi untuk menghemat energi. Zelensky menyatakan lebih dari satu juta warga Kyiv akan kehilangan listrik hingga Selasa malam, sementara lebih dari 4.000 blok hunian, atau sekitar setengah bangunan di ibu kota, masih tanpa pemanas. Gedung parlemen Ukraina juga terdampak pemadaman, sebagaimana disampaikan Ketua Parlemen Ruslan Stefanchuk.

Serangan Meluas ke Wilayah Lain

Serangan terhadap fasilitas energi turut dilaporkan terjadi di Odesa, Poltava, dan Rivne. Pada malam harinya, drone Rusia kembali menghantam wilayah Zaporizhzhia dan menewaskan tiga orang, menurut keterangan kementerian dalam negeri Ukraina.

Jaringan listrik yang memasok pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl yang sudah tidak beroperasi juga terdampak, sempat memutus aliran listrik untuk keperluan pemeliharaan sebelum akhirnya berhasil dipulihkan, kata Direktur PLTN Chernobyl, Sergiy Tarakanov.

Sejak awal invasi, Rusia secara konsisten menargetkan sektor energi Ukraina, yang menurut Kyiv bertujuan melemahkan moral dan ketahanan masyarakat sipil. Kremlin menyatakan hanya menyerang fasilitas militer dan menyalahkan berlanjutnya perang pada penolakan Ukraina terhadap tuntutan perdamaian Rusia.

Mahkamah Pidana Internasional sebelumnya telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap dua pejabat tinggi militer Rusia terkait serangan terhadap jaringan energi Ukraina, yang dinilai sebagai kejahatan perang karena berdampak langsung pada warga sipil.

Demi pertimbangan keamanan di masa perang, otoritas Kyiv tidak merinci secara detail fasilitas energi mana saja yang mengalami kerusakan atau kehancuran akibat serangan terbaru tersebut.

x|close