Ntvnews.id, Beijing - Gelombang pembersihan elite militer di China memasuki babak paling mengejutkan setelah salah satu jenderal dengan kekuasaan tertinggi, tepat di bawah Presiden Xi Jinping, resmi diselidiki atas dugaan pelanggaran berat disiplin dan hukum. Perkembangan ini dinilai sebagai eskalasi paling signifikan dalam kampanye panjang Xi untuk merombak jajaran puncak Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Dilansir dari NY Times, Senin, 26 Januari 2026? Kementerian Pertahanan Nasional China mengumumkan bahwa Jenderal Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC), tengah menjalani proses penyelidikan. CMC sendiri merupakan lembaga partai yang memegang kendali penuh atas seluruh kekuatan bersenjata China.
Dalam pernyataan yang sama, otoritas juga menyebut Jenderal Liu Zhenli, anggota CMC sekaligus Kepala Departemen Staf Gabungan PLA, turut diperiksa. Namun demikian, pemerintah China tidak mengungkap secara rinci jenis pelanggaran yang dituduhkan kepada kedua perwira tinggi tersebut.
Baca Juga: China Selidiki Dua Jenderal Militer Operasi Besar Pemberantasan Korupsi
Keputusan menyingkirkan Zhang Youxia dipandang sebagai langkah paling ekstrem sejauh ini dalam upaya Xi Jinping memberantas korupsi dan menegakkan loyalitas di tubuh militer. Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena Zhang selama ini dikenal sebagai salah satu figur paling dekat dan dipercaya Xi, dengan hubungan personal yang telah terjalin selama puluhan tahun.
"Langkah ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah militer Tiongkok dan merupakan penghancuran total komando tinggi," kata Christopher K. Johnson, mantan analis CIA yang kini mengamati dinamika elite politik China.
Xi Jinping memberhentikan salah satu jenderal paling senior, Zhang Youxia (Istimewa)
Dengan tersingkirnya Zhang Youxia dan Liu Zhenli, struktur Komisi Militer Pusat kini praktis hanya menyisakan dua anggota aktif, yakni Xi Jinping sebagai ketua dan Jenderal Zhang Shengmin, sosok yang selama ini memimpin agenda pembersihan internal militer. Tercatat, Xi telah menyingkirkan lima dari enam jenderal yang ia angkat sendiri ke CMC pada 2022.
Johnson, yang kini menjabat Presiden China Strategies Group, menilai Xi tampaknya telah menyimpulkan bahwa persoalan di tubuh militer terlalu dalam untuk diselesaikan oleh generasi elite lama. Menurutnya, Xi seolah telah "memutuskan bahwa ia harus menelusuri generasi demi generasi untuk menemukan kelompok yang tidak tercemar." Ia menambahkan, "Pembersihan terhadap teman masa kecil seperti Zhang Youxia menunjukkan bahwa kini tidak ada batasan bagi semangat antikorupsi Xi."
Spekulasi mengenai nasib Zhang Youxia sebenarnya telah beredar dalam beberapa hari terakhir, menyusul laporan media pemerintah yang menunjukkan absennya Zhang dan Liu Zhenli dari sebuah pertemuan Partai Komunis. Namun, dalam praktik politik China, pejabat tinggi kerap menghilang dari publik selama berbulan-bulan sebelum penyelidikan diumumkan secara resmi.
Kecepatan pengumuman penyingkiran Zhang dinilai sebagai upaya untuk menekan dampak politik dan psikologis yang berpotensi meluas di internal PLA.
Baca Juga: Pesawat Azur Air Rute Thailand-Rusia Pendaratan Darurat di China, Penumpang Selamat
"Ini bisa menjadi pukulan besar bagi moral di dalam PLA," kata Su Tzu-yun, pakar PLA dari Institute for National Defense and Security Research di Taipei.
Menurut Su, Zhang selama ini dipandang sebagai figur yang nyaris tak tersentuh, sehingga penyingkirannya berpotensi mengguncang rasa aman dan kepercayaan diri para perwira di tubuh militer China.
Selain dampak psikologis, para pengamat juga menyoroti implikasi serius terhadap kesiapan operasional. Zhang Youxia dan Liu Zhenli merupakan dua tokoh kunci yang selama ini memegang tanggung jawab atas operasi praktis militer.
"Saat ini tidak ada seorang pun di tingkat tertinggi yang memiliki pengalaman operasional atau yang bertanggung jawab atas pelatihan dan latihan," ujar Shanshan Mei, peneliti RAND Corporation.
"Ini akan meninggalkan luka yang sangat dalam, dan mungkin akan ada lebih banyak lagi yang menyusul."
Zhang Youxia, yang kini berusia 75 tahun, sebelumnya dianggap relatif aman dari gelombang pembersihan. Ia memiliki kedekatan historis dengan Xi Jinping, karena ayah mereka sama-sama veteran perang revolusioner era Mao Zedong. Xi bahkan mempertahankan Zhang di posisinya melampaui usia pensiun tidak resmi sekitar 70 tahun.
Namun, menurut Su, kekhawatiran Xi terhadap loyalitas para komandan akhirnya mengalahkan ikatan personal tersebut.
"Saya pikir ini mencerminkan rasa tidak aman pribadi Xi Jinping, dan itu merupakan faktor utama dalam pembersihan militer yang dilakukannya," kata Su.
Sejak 2023, puluhan pejabat tinggi militer, perwira, hingga eksekutif perusahaan industri persenjataan telah disingkirkan, diselidiki, atau menghilang tanpa penjelasan terbuka. Gelombang awal pembersihan menyasar Rocket Force, unit strategis yang mengoperasikan sebagian besar persenjataan rudal nuklir China.
Penyelidikan kemudian meluas ke jajaran laksamana, komandan wilayah, hingga anggota CMC. Ironisnya, banyak dari mereka merupakan perwira yang dipromosikan langsung oleh Xi sejak ia berkuasa pada 2012, saat berjanji membersihkan militer dari praktik korupsi yang telah lama mengakar.
Setelah lebih dari satu dekade memimpin, Xi tampaknya menyadari bahwa bahkan para perwira yang dibesarkannya sendiri tidak sepenuhnya lepas dari praktik lama, seperti suap dalam kontrak persenjataan atau promosi jabatan.
Dampak pembersihan tersebut tercermin dalam rapat Komite Sentral Partai Komunis tahun lalu. Berdasarkan perhitungan Neil Thomas dari Asia Society, dari 44 perwira berseragam yang diangkat ke komite pada 2022, sebanyak 29 orang atau sekitar dua pertiganya telah disingkirkan atau menghilang.
Xi diyakini memperhitungkan bahwa dalam jangka panjang, guncangan ini akan membuat PLA lebih bersih, lebih patuh, dan lebih efektif, termasuk dalam menghadapi agenda strategis seperti tekanan terhadap Taiwan. Namun, dalam jangka pendek, banyak analis menilai pembersihan besar-besaran justru berpotensi melemahkan kesiapan tempur.
"Ini merupakan sebuah dilema," kata Su. "Dia ingin menyingkirkan orang-orang yang disebut korup ini terlebih dahulu, tetapi bagi PLA, jika Anda membersihkan para perwira tingkat tinggi ini, itu berarti banyak pengalaman yang hilang."
Zhang Youxia sendiri dikenal sebagai salah satu dari sedikit jenderal China yang memiliki pengalaman tempur langsung. Ia merupakan veteran perang perbatasan China–Vietnam pada 1979, konflik besar terakhir yang melibatkan pasukan China. Kariernya kemudian berlanjut sebagai Kepala Departemen Peralatan Umum, lembaga yang mengelola pengadaan senjata, sebelum dipromosikan Xi ke CMC pada 2017.
"Bagi Zhang Youxia, memiliki pengalaman tempur dan menjadi salah satu dari sedikit orang yang masih memilikinya, tentu menambah daya tariknya, setidaknya di mata Xi Jinping," kata John Culver, mantan analis CIA, sebelum pengumuman penyelidikan terhadap Zhang.
Namun, sejumlah analis menilai justru posisinya di Departemen Peralatan Umum menjadi titik rawan yang berujung pada kejatuhannya. Unit tersebut lama dikenal sebagai “sarang madu” korupsi karena mengelola kontrak persenjataan bernilai sangat besar. Sejumlah jenderal dari departemen yang sama sebelumnya juga telah disingkirkan, termasuk mantan Menteri Pertahanan Li Shangfu.
Kini, Xi Jinping menghadapi tantangan besar untuk membangun ulang struktur komando militer dari awal dan menyiapkan generasi perwira baru yang dianggap bersih serta loyal.
"Membangun kembali rantai komando ini mungkin membutuhkan waktu lima tahun atau lebih," kata Su. "Peluang terjadinya serangan terhadap Taiwan dalam jangka pendek telah menurun."
Xi Jinping memberhentikan salah satu jenderal paling senior, Zhang Youxia (Istimewa)