China–Inggris Sepakat Perkuat Kerja Sama Ekonomi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jan 2026, 08:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Bendera China Bendera China (Istimewa)

Ntvnews.id, Beijing - Pemerintah China dan Inggris mencapai kesepakatan untuk memperdalam kerja sama ekonomi yang bersifat jangka panjang dan stabil, termasuk rencana penerapan kebijakan bebas visa bagi pemegang paspor Inggris yang hendak berkunjung ke China.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang berlangsung di Balai Besar Rakyat, Beijing, pada Kamis.

“China menyambut baik pemerintah Inggris, parlemen, dan berbagai kalangan daerah di Inggris untuk lebih sering berkunjung ke China guna meningkatkan pemahaman yang komprehensif, objektif, dan tepat tentang China. Kami bersedia secara aktif mempertimbangkan penerapan bebas visa unilateral bagi warga negara Inggris,” ujar Xi Jinping, seperti dikutip dalam rilis Kementerian Luar Negeri China.

Kunjungan resmi PM Starmer selama tiga hari ke Beijing dan Shanghai turut diikuti sekitar 60 delegasi dari kalangan perusahaan, universitas, dan lembaga kebudayaan, termasuk HSBC, Standard Chartered, dan KPMG. Dalam agenda tersebut, Starmer juga menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri China Li Qiang serta Ketua Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji.

Presiden Xi menilai kerja sama China–Inggris memiliki prospek yang "sangat menjanjikan" dan merupakan capaian konkret yang "benar-benar berbuah hasil". Ia menyebut hal itu membuka babak baru hubungan bilateral yang tidak hanya menguntungkan kedua bangsa, tetapi juga memberikan dampak positif bagi komunitas internasional.

Baca Juga: Kumpulkan Menteri di Hambalang, Prabowo Perkuat Kerja Sama Pendidikan Indonesia–Inggris

"Saling percaya merupakan fondasi agar hubungan antarnegara dapat berjalan stabil dan berkelanjutan. China secara konsisten menempuh jalur pembangunan damai, tidak pernah secara aktif memulai perang apa pun, dan tidak pernah merebut sejengkal pun wilayah negara lain," tegas Presiden Xi.

Ia menambahkan bahwa kebangkitan China tidak akan menjadi ancaman bagi negara lain karena nilai budaya Tiongkok menjunjung tinggi prinsip "mengutamakan harmoni" dan mengejar "keselarasan dalam perbedaan".

"Hakikat kerja sama ekonomi dan perdagangan China–Inggris. Kedua negara perlu memperluas kerja sama yang saling menguntungkan di bidang pendidikan, kesehatan, keuangan, dan sektor jasa, serta melakukan penelitian bersama dan transformasi industri di bidang kecerdasan buatan, ilmu pengetahuan, energi baru, dan teknologi rendah karbon, guna mewujudkan pembangunan dan kemakmuran bersama," jelas Presiden Xi.

Xi juga berharap Inggris dapat menyediakan iklim usaha yang adil, setara, dan tanpa diskriminasi bagi perusahaan China, termasuk dengan mempermudah mobilitas warga negara kedua negara.

Sementara itu, PM Starmer mengungkapkan kegembiraannya karena menjadi perdana menteri Inggris pertama yang melakukan kunjungan ke China dalam delapan tahun terakhir.

Bendera Inggris <b>(Istimewa)</b> Bendera Inggris (Istimewa)

"Di tengah situasi internasional yang penuh gejolak dan rapuh saat ini, sangat penting bagi Inggris dan China untuk membangun kemitraan strategis komprehensif yang jangka panjang dan stabil berdasarkan semangat saling menghormati dan saling percaya. Kebijakan Inggris terkait isu Taiwan yang telah lama dianut tidak berubah dan tidak akan berubah," kata PM Starmer dalam pernyataan tertulis.

"Semakin erat pertukaran antarmasyarakat, semakin kondusif bagi peningkatan saling pengertian. Inggris juga bersedia bersama China mendorong lembaga legislatif dan berbagai kalangan lainnya dari kedua negara untuk memperkuat pertukaran," tambahnya.

Terkait Hong Kong, kedua pihak menilai stabilitas dan kemakmuran wilayah tersebut sejalan dengan kepentingan bersama. Inggris pun menyambut peran Hong Kong sebagai jembatan strategis dan unik dalam hubungan Inggris–China.

Baca Juga: Oleh-oleh dari Inggris, Prabowo Bawa Pulang Investasi Rp90 Triliun dan 600 Ribu Lapangan Kerja

Dalam pernyataan terpisah, Kantor Perdana Menteri Inggris menyebutkan bahwa London dan Beijing akan meluncurkan kemitraan baru guna memperluas sektor jasa unggulan Inggris di China. Kerja sama itu mencakup pengembangan layanan kesehatan, jasa keuangan dan profesional, jasa hukum, pendidikan, serta pengembangan keterampilan melalui kolaborasi lintas pemerintah dan dunia usaha.

Kesepakatan tersebut juga mencakup pemberian bebas visa bagi warga negara Inggris untuk kunjungan hingga 30 hari. Dengan kebijakan ini, Inggris akan menikmati fasilitas serupa dengan sekitar 50 negara lain, termasuk Prancis, Jerman, Italia, Australia, dan Jepang.

Selain itu, kedua negara sepakat melakukan studi kelayakan untuk menjajaki kemungkinan negosiasi perjanjian bilateral di sektor jasa. Jika terealisasi, perjanjian tersebut akan menetapkan aturan yang jelas dan mengikat secara hukum bagi perusahaan Inggris yang beroperasi di China.

x|close