Ntvnews.id, Tokyo - Sekitar setengah dari 20 kota besar di Jepang dengan jumlah penduduk masing-masing di atas 700 ribu orang tercatat mengalami penurunan populasi dibandingkan kondisi satu dekade lalu. Fenomena ini salah satunya dipicu oleh rendahnya tingkat kelahiran yang terus berlanjut.
Hasil analisis terbaru menunjukkan tren penurunan jumlah penduduk di kota-kota besar tersebut diperkirakan belum akan berhenti. Dalam proyeksi hingga tahun 2050, jumlah kota besar yang mengalami penyusutan populasi diprediksi meningkat menjadi 18 kota, meskipun sebelumnya wilayah-wilayah ini sempat menjadi magnet bagi penduduk muda dari daerah sekitarnya.
Di antara kota berstatus ordinance-designated city, Kitakyushu yang berada di wilayah barat daya Jepang mencatat penurunan populasi paling signifikan. Jumlah penduduk kota tersebut menyusut sekitar 6,5 persen, dari kurang lebih 970 ribu jiwa menjadi sekitar 910 ribu jiwa.
Mengutip Antara, Minggu, 1 Februari 2026, tren penyusutan penduduk ini mendorong para pembuat kebijakan untuk mengevaluasi kembali sistem kota berstatus khusus tersebut, yang sejak awal dibangun dengan asumsi pertumbuhan penduduk yang berkelanjutan.
Baca Juga: Korea Utara Jatuhkan 2 Rudal Balistik ke Laut Jepang
Sistem ordinance-designated city pertama kali diterapkan pada 1956, dengan Yokohama, Nagoya, Kyoto, Osaka, dan Kobe menjadi kota-kota perintis yang memperoleh status tersebut.
Dalam perkembangannya, sejumlah kota lain kemudian menyusul, termasuk Shizuoka, setelah pemerintah pusat menurunkan batas minimum jumlah penduduk dari satu juta menjadi 700 ribu jiwa.
Perbandingan data registrasi penduduk dasar per 1 Januari 2015 dan 1 Januari 2025 memperlihatkan bahwa setelah Kitakyushu, Shizuoka mencatat penurunan terbesar kedua, yakni sekitar 6,0 persen, dari kurang lebih 710 ribu penduduk menjadi sekitar 670 ribu jiwa.
Jepang (Istimewa)
Di sisi lain, beberapa kota justru menunjukkan tren pertumbuhan. Fukuoka mencatat lonjakan tertinggi dengan kenaikan 8,2 persen hingga mencapai sekitar 1,60 juta jiwa. Kota Saitama menyusul dengan pertumbuhan 7,1 persen menjadi sekitar 1,35 juta jiwa, sementara Kawasaki mengalami peningkatan 6,2 persen menjadi sekitar 1,53 juta jiwa.
Berdasarkan data tahun 2025 serta proyeksi 2050 dari Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial Jepang, hanya Fukuoka dan Kawasaki yang diperkirakan mampu mempertahankan jumlah penduduknya tanpa mengalami penurunan hingga 2050.
Baca Juga: Kekeuh Ingin Greenland, Trump sebut Eropa Tanpa AS Saat Ini Berbahasa Jerman dan Jepang
Sejumlah pengamat menilai kota-kota berstatus khusus tersebut belum mendapatkan alokasi sumber daya keuangan yang sebanding dengan kompleksitas tanggung jawab yang diemban. Kondisi ini mendorong sebagian anggota parlemen lintas partai mengusulkan agar kota-kota tersebut diubah menjadi kota khusus yang berdiri terpisah dari pemerintahan prefektur.
Sementara itu, dari total 62 kota inti di Jepang dengan jumlah penduduk minimal 200 ribu jiwa, sebanyak 52 kota atau sekitar 84 persen juga tercatat mengalami penurunan populasi dibandingkan kondisi sepuluh tahun sebelumnya.
Bendera Jepang (Antara)