Penyebab Siswa SD di Ngada NTT Gantung Diri Tak Dibelikan Buku Seharga Rp10 Ribu

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Feb 2026, 08:39
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Surat buatan Anak SD NTT yang bunuh diri gara-gara gak mampu beli buku. Surat buatan Anak SD NTT yang bunuh diri gara-gara gak mampu beli buku. (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Berita ini bukan untuk menginspirasi siapa pun guna melakukan aksi serupa. Untuk Anda yang mengalami gejala depresi maupun ingin bunuh diri, segera konsultasi ke psikolog, psikiater, hingga mendatangi klinik kesehatan mental.

Peristiwa memilukan terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR, berusia 10 tahun, ditemukan tewas dengan cara gantung diri di sebuah pohon cengkih.

Ketika petugas kepolisian melakukan evakuasi, mereka menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang kemudian menjadi kunci untuk memahami kondisi batin korban sebelum mengakhiri hidupnya.

Surat yang ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa itu berisi ungkapan kekecewaannya terhadap ibunya, dan beberapa baris perpisahan. Polisi memastikan surat tersebut benar ditulis oleh korban.

Baca Juga: Bungkam Chelsea 1-0, Arsenal Melaju ke final Piala Liga Inggris

Isi surat tersebut sebagai berikut:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan keaslian surat tersebut.

"Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis," kata dia dalam keterangannya yang dilansir pada Rabu, 4 Februari 2026.

Baca Juga: Barcelona ke semifinal Piala Raja setelah Tundukkan Albacete 2-1

Dari keterangan yang dihimpun, penyebab tindakan nekat YBR diduga berkaitan dengan permintaan sederhana yang tak terpenuhi. Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan bahwa sehari sebelum kejadian, korban meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pulpen seharga Rp10.000 yang dibutuhkannya untuk sekolah.

Namun, permintaan itu tidak dapat dipenuhi. Ibunya mengalami kesulitan ekonomi dan tidak memiliki uang untuk membeli perlengkapan sekolah tersebut. Situasi keluarga yang terbatas membuat YBR pulang dan menginap di rumah ibunya malam itu, khusus untuk meminta uang kebutuhan sekolah.

Dion menuturkan bahwa YBR sebenarnya tinggal bersama neneknya di desa lain, sementara ibunya menanggung lima anak dengan kondisi ekonomi yang berat. Ayah korban telah berpisah dari keluarga sejak sekitar 10 tahun lalu.

"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal. Hidupnya susah,” ujar Dion.

x|close