Anak SD NTT Bunuh Diri Gegara Gak Mampu Beli Buku, Amnesty: Tamparan Keras Bagi Negara

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Feb 2026, 06:10
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Surat buatan Anak SD NTT yang bunuh diri gara-gara gak mampu beli buku. Surat buatan Anak SD NTT yang bunuh diri gara-gara gak mampu beli buku. (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Berita ini bukan untuk menginspirasi siapa pun guna melakukan aksi serupa. Untuk Anda yang mengalami gejala depresi maupun ingin bunuh diri, segera konsultasi ke psikolog, psikiater, hingga mendatangi klinik kesehatan mental.

Peristiwa memilukan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang murid kelas IV Sekolah Dasar berinisial YBS (10) mengakhiri hidupnya. Anak tersebut disebut putus asa setelah tidak mampu membeli buku tulis dan pena dengan harga tak sampai Rp10.000.

Tragedi ini menuai sorotan dari berbagai pihak, termasuk Amnesty International Indonesia. Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menyebut kejadian ini sebagai tamparan keras bagi negara.

“Apa yang terjadi di NTT adalah produk kemiskinan struktural. Kami menyampaikan duka mendalam kepada keluarga almarhum. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang menyayat hati. Tamparan keras bagi negara yang gagal dalam melindungi hak asasi manusia," ucap Hamid dalam keterangannya, Kamis, 5 Februari 2026.

Amnesty menyoroti ironi kebijakan anggaran negara. Di saat seorang anak kehilangan harapan hidup hanya karena tak memiliki alat tulis murah, negara justru mengalokasikan anggaran fantastis untuk berbagai program besar.

Menurut Amnesty, kondisi ini memperlihatkan ketimpangan prioritas kebijakan, di mana akses pendidikan dasar bagi anak-anak miskin masih belum terjamin sepenuhnya, baik dari sisi biaya sekolah maupun perlengkapan belajar.

Kemiskinan, kata Amnesty, bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga berdampak serius pada psikologis anak, rasa harga diri, dan keberdayaan sosial. Anak-anak dalam kemiskinan ekstrem menjadi kelompok paling rentan terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Usman Hamid <b>(Ntvnews.id/ Adiansyah)</b> Usman Hamid (Ntvnews.id/ Adiansyah)

Baca Juga: Anak SD NTT Bunuh Diri Gara-gara Gak Mampu Beli Buku, DPR: Alarm Keras!

Kematian YBS disebut sebagai bukti nyata bahwa negara belum sepenuhnya hadir dalam memastikan pendidikan yang layak dan inklusif. Hak atas pendidikan, menurut Amnesty, tidak berhenti pada penyediaan gedung sekolah, melainkan juga mencakup akses terhadap sarana belajar tanpa hambatan biaya.

"Negara tidak boleh hanya hadir dalam narasi besar anggaran triliunan untuk program-program lain, namun absen ketika seorang anak diduga sampai mengakhiri nyawa karena tidak memiliki buku dan pena," ungkap Hamid.

Sebelumnya, YBS ditemukan meninggal dunia di dekat sebuah pondok tempat ia tinggal bersama neneknya pada 29 Januari 2026. Malam sebelum kejadian, YBS diketahui meminta uang kepada ibunya, MGT, untuk membeli buku tulis dan pena. Namun permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.

Polisi juga mengungkapkan bahwa YBS diduga sempat menulis surat perpisahan berbahasa Ngada kepada sang ibu. Dalam surat tersebut, YBS meminta ibunya untuk merelakan kepergiannya dan tidak bersedih.

Kepala Desa Naruwolo membenarkan bahwa keluarga YBS tergolong masyarakat miskin. MGT merupakan seorang janda dengan lima anak, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Demi meringankan beban keluarga, YBS tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana.

x|close