Uji BPOM Negatif, BGN Tegaskan Kematian Siswa MIN 2 Bengkulu Utara Tak Terkait MBG

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Mar 2026, 20:10
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang bersama Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus meninjau pelaksanaan MBG di SMK Negeri 1 Jakarta pada Kamis (8/1/2025). Dalam kunjungan itu, Nanik berdialog dengan siswa terkait perubahan p Arsip - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang bersama Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus meninjau pelaksanaan MBG di SMK Negeri 1 Jakarta pada Kamis (8/1/2025). Dalam kunjungan itu, Nanik berdialog dengan siswa terkait perubahan p (dok BGN)

Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, memastikan bahwa wafatnya seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara bernama Fatih tidak berhubungan dengan konsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giri Kencana.

Menurut Nanik, isu yang berkembang di masyarakat yang mengaitkan kematian Fatih dengan dugaan keracunan makanan dari program MBG tidak sesuai dengan fakta yang ditemukan di lapangan.

Ia menegaskan bahwa korban belum sempat mengonsumsi makanan dari program tersebut saat insiden terjadi.

"Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit," kata Nanik di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, lanjut Nanik, korban diketahui mengalami pendarahan otak. Temuan itu diperoleh setelah dilakukan pemindaian CT Scan di RS Bhayangkara.

Baca Juga: BGN Tegaskan Isu Siswa Meninggal Akibat MBG di Bireuen Adalah Hoaks

Karena membutuhkan penanganan lanjutan berupa operasi bedah saraf, Fatih kemudian dirujuk ke RS Tiara Sella yang memiliki fasilitas memadai.

Sebelumnya, Fatih sempat mendapatkan penanganan awal di RS Lagita Ketahun. Namun rumah sakit tersebut hanya memberikan tindakan kegawatdaruratan karena kondisi korban sudah dalam keadaan penurunan kesadaran dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 6, yang menunjukkan cedera otak berat dan mengancam jiwa.

Upaya rujukan sempat dilakukan ke sejumlah rumah sakit di Bengkulu hingga Padang, namun fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dilaporkan penuh. Korban akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lanjutan. Hasil CT Scan kembali mengonfirmasi adanya pendarahan otak.

Setelah itu, Fatih dipindahkan ke RS Tiara Sella guna menjalani operasi bedah saraf. Ia dinyatakan meninggal dunia sekitar 12 jam setelah tindakan operasi dilakukan.

Baca Juga: BGN Tegaskan Tidak Pernah Larang Warga Unggah Menu MBG di Medsos

Selain menjelaskan aspek medis, Nanik juga memaparkan hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hasil pengujian menunjukkan tidak adanya kandungan berbahaya maupun cemaran bakteri.

"Hasil uji BPOM menunjukkan seluruh sampel negatif, tidak ada bakteri E. coli, boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, ataupun temuan lain yang mengarah pada keracunan pangan," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa dari sekitar 1.800 penerima manfaat MBG pada hari yang sama, tidak ditemukan kasus serupa selain yang dialami Fatih.

"Dari 1.800 penerima manfaat, tidak ada laporan kejadian serupa. Hanya satu kasus ini, dan secara medis ditemukan adanya pendarahan otak," tegas Nanik.

BGN menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Fatih serta mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan spekulasi. Pihaknya meminta publik menunggu informasi resmi yang didasarkan pada hasil pemeriksaan medis dan laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan.

x|close