Ada Nama Pelaku Penembakan Massal Dunia di Tas Siswa Pelempar Molotov Kalbar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Feb 2026, 12:01
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri menunjukkan tas milik seorang siswa pelempar molotov di SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat. ANTARA/HO-Densus 88 Antiteror Polri Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri menunjukkan tas milik seorang siswa pelempar molotov di SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat. ANTARA/HO-Densus 88 Antiteror Polri (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri mengungkapkan bahwa tas milik seorang siswa pelempar molotov di SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, yang terjadi pada Selasa, 3 Februari 2026, memuat sejumlah nama pelaku penembakan massal yang dikenal secara global.

Juru Bicara Densus 88 Kombes Polisi Mayndra Eka Wardhana menjelaskan nama-nama tersebut kerap dijadikan rujukan di komunitas ekstrem daring.

“Nama-nama yang tertera adalah pelaku penembakan massal dan sering dijadikan referensi di komunitas ekstrem online,” kata Mayndra di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.

Ia merinci, nama pertama yang ditulis adalah Stephen Paddock, pelaku penembakan massal Las Vegas pada 2017.

“Insiden ini termasuk penembakan paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat modern,” katanya. Nama kedua adalah Adam Peter Lanza, pelaku penembakan di Sandy Hook Elementary School pada 2012 yang menewaskan anak-anak usia sekolah dasar dan guru. “(Adam Peter Lanza) sering dijadikan simbol ekstrem kekerasan nihilistik,” ujarnya.

Mayndra melanjutkan, nama ketiga yang tercantum adalah Seung-Hui Cho, pelaku penembakan Virginia Tech pada 2007. Peristiwa tersebut menjadi salah satu kasus awal yang banyak dikaji dalam studi mengenai pelaku tunggal atau lone wolf serta alienasi sosial. Nama keempat adalah Salvador Ramos, pelaku penembakan di Uvalde, Texas, pada 2022 yang menargetkan sekolah dasar.

Baca Juga: Densus 88 Temukan 6 Bom Molotov dari Kasus SMPN 3 Sungai Raya

Barang bukti yang diamankan Densus 88 AT Polri dari kasus seorang siswa SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, yang melemparkan molotov di lingkungan sekolah pada Selasa, 3 Februari 2026. (ANTARA/HO-Densus 88 AT Polri) <b>(Antara)</b> Barang bukti yang diamankan Densus 88 AT Polri dari kasus seorang siswa SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, yang melemparkan molotov di lingkungan sekolah pada Selasa, 3 Februari 2026. (ANTARA/HO-Densus 88 AT Polri) (Antara)

Nama kelima, imbuh dia, adalah Luca Traini, pelaku penembakan bermotif rasial di Macerata, Italia pada 2018.

“(Luca Traini) berafiliasi dengan ideologi ekstrem kanan,” ucapnya. Sementara itu, nama terakhir yang ditemukan adalah Brenton Tarrant, pelaku serangan teror di Christchurch, Selandia Baru pada 2019.

Selain mencantumkan nama, anak tersebut juga menuliskan simbol #ZERO DAY dan TCC pada tasnya. Mayndra menjelaskan bahwa istilah #ZERO DAY sering digunakan dalam subkultur kekerasan ekstrem dan merujuk pada hari pelaksanaan serangan.

“Ini juga terkait dengan narasi film Zero Day tentang penembakan sekolah,” imbuhnya.

Adapun TCC merujuk pada True Crime Community, yakni komunitas yang dinilai menyebarkan paparan ekstremisme dan ideologi kekerasan.

Lebih lanjut, Mayndra menyampaikan bahwa anak tersebut diketahui merupakan korban perundungan dan memiliki keinginan untuk membalas perlakuan teman-temannya yang kerap melakukan perundungan. Selain itu, anak tersebut juga diduga kuat menghadapi persoalan dalam lingkungan keluarga.

Baca Juga: Densus 88 Ungkap Siswa SMP Pelempar Molotov Anggota True Crime Community

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri menunjukkan tas milik seorang siswa pelempar molotov di SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat. ANTARA/HO-Densus 88 Antiteror Polri <b>(Antara)</b> Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri menunjukkan tas milik seorang siswa pelempar molotov di SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat. ANTARA/HO-Densus 88 Antiteror Polri (Antara)

Dorongan balas dendam itu kemudian dilampiaskan dengan melakukan aksi kekerasan di lingkungan sekolah. Sebelumnya, Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade menjelaskan bahwa pelaku datang ke sekolah dan melemparkan botol berisi bahan bakar yang memicu percikan api serta kepulan asap.

Pihak sekolah bersama warga sekitar segera melakukan penanganan awal sehingga api dapat cepat dipadamkan dan tidak merambat ke bangunan utama maupun ruang kelas. Personel Polsek Sungai Raya kemudian mengamankan lokasi, sementara Tim Inafis Satreskrim Polres Kubu Raya mengumpulkan barang bukti untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

(Sumber: Antara) 

x|close