Reza Indragiri: Siswa SD Bunuh Diri di NTT Bukan Sekadar Soal Alat Tulis

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Feb 2026, 11:50
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri/tangkapan layar NTV Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri/tangkapan layar NTV

Ntvnews.id, Jakarta - Kasus gantung diri siswa SD di Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur, terus memicu perhatian publik. Peristiwa yang menimpa YBR (10) memunculkan keprihatinan luas, termasuk dari psikolog forensik Reza Indragiri Amriel.

Dalam penjelasan tertulisnya, Reza menegaskan bahwa tragedi tersebut seharusnya dibaca lebih dalam daripada sekadar persoalan anak yang kesulitan membeli alat tulis. Reza membuka pandangannya dengan menyebut bahwa persoalan serupa sebenarnya bukan hal baru.

“Kalau mau buka mata, anak-anak yang kesulitan membeli alat tulis adalah fenomena 'biasa'. Lebih parah: banyak yang bahkan sampai tidak bisa bersekolah. Lebih parah lagi: banyak yang tidak bisa makan. Tapi mereka tidak bunuh diri,” kata Reza Indragiri, dilansir pada Kamis, 5 Februari 2026.

"Jadi, kalau mau buka hati, sesungguhnya bukan masalah anak tidak bisa beli alat tulis yang membuat geger," lanjutnya. 

Karena itu, menurutnya, sumber kegemparan bukan pada persoalan alat tulis A sampai Z, melainkan lapisan persoalan lain yang belum dipahami secara utuh. Ia juga menyinggung konteks sosial yang kontras dengan pernyataan pemerintah mengenai kebahagiaan masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Gubernur NTT Sebut Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri Tak Terdata Penerima Bansos

“Peristiwa menyedihkan sekaligus menakutkan ini sebaiknya diperhatikan oleh Presiden dengan secermat mungkin. Pasalnya, ini kontras dengan gembar-gembor salah kaprah Presiden bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia sedunia,” ujar Reza.

Dalam analisis psikologisnya, Reza menegaskan bahwa kesedihan memiliki spektrum. Ia menjelaskan bahwa masyarakat sering kali baru terperanjat ketika melihat penderitaan yang berada pada level paling ekstrem, sementara penderitaan yang jumlahnya jauh lebih besar justru luput dari perhatian.

“Kita sudah mati rasa terhadap penderitaan yang baru 'sebatas' itu. Kita hanya terperanjat ketika merespon kesengsaraan terekstrim, seperti yang terjadi pada anak NTT itu,” tuturnya.

Reza kemudian menyampaikan dua kemungkinan simpulan psikologis mengenai kasus YBR. Pertama, bunuh diri yang muncul dari duka berkepanjangan.

Baca Juga: Siswa SD yang Tewas Gantung Diri di NTT Ternyata Berkali-kali Ditagih Uang Sekolah Rp 1,2 Juta per Tahun

“Bunuh diri merupakan ujung akhir dari duka nestapa yang terus bereskalasi dari waktu ke waktu (kronis). Karena kronis, maka semestinya kematian bisa dicegat jika kita cukup awas mengamati perubahan tabiat anak,” jelasnya.

“Depresi, tapi pemunculannya sekonyong-konyong. langsung terbitnya keputusan untuk bunuh diri lebih disebabkan oleh keterbatasan wawasan seseorang untuk menemukan solusi-solusi konstruktif atas persoalan yang saat itu tengah ia hadapi,” katanya.

Pada kondisi ini, persoalan terletak pada kognisi, bukan afeksi. Di antara dua simpulan itu, Reza menilai kasus YBR memperlihatkan nuansa lain yang menyayat.

“Betapa pilunya kita menangkap warna altruistis pada peristiwa bunuh diri murid SD di NTT itu. Dia mengakhiri hidupnya sendiri guna mengurangi beban hidup orang yang ia sayangi,” ujarnya.

Ia bahkan menutup refleksinya dengan kutipan lagu Iwan Fals yang menggambarkan beratnya pergumulan mental anak tersebut Melalui pandangan tersebut, Reza mengajak publik untuk melihat tragedi ini bukan sekadar dari sisi ekonomi, tetapi sebagai potret luka psikologis yang lebih dalam.

x|close